Wednesday, September 09, 2020

Ringkih Ibu

Tubuh ringkih ibu terbaring di tempat tidur. Nafasnya berbunyi mengorok halus melalui mulutnya yang terbuka, membuat cekung pipinya terlihat lebih nyata. Ibu masih mengenakan kain jarik dan atasan kebaya, namun sekarang terlihat longgar dan membuatnya seperti tenggelam di kasur. Umurnya sudah 76, 80 mungkin, siapa yang tahu? Entah di mana akte lahirnya, dan kalaupun ada, entah datanya benar atau tidak. Karena Ibu selalu bilang kalau tanggal lahirnya di akte salah. Kalau ditanya kapan ulang tahunnya, Ibu selalu menjawab, 1 Januari, tepat tahun baru.

Aku masih memandanginya lama-lama, dia baru tertidur lima menit lalu dan biasanya dalam setengah jama akan terbangun lagi. Dengan kesakitan. Jari-jarinya yang kurus panjang menyembulkan pembuluh dan urat pekerja keras. Orang jaman dulu, mana punya pembantu? Kecuali keluarga priyayi tentu saja, dan Ibu bukan priyayi. Berapa banyak baju yang sudah dijahitnya? Berapa ember air sudah ditimbanya? Berapa kali ia memasak selama hidupnya. Hitunglah sederhana saja: 50 tahun x 360 hari x 2 = 36000 kali ibu memasak sarapan dan makan siang/malam selama hidupnya sejak menikah. Setahuku Ibu selalu hidup sendiri, mandiri. Karena Bapak sudah meninggal sewaktu aku berumur setahun. Tahun 1949, saat harusnya Indonesia merdeka, Bapak malah ditembak Belanda.

Yang menyedihkan, aku tidak ingat berapa kali tangan kurus itu sudah membelai aku. Atau menyuapiku, atau menggendongku di tengah malam. Mengapa kita tak pernah ingat saat-saat terpenting dalam hidup kita, saat kita berumur di bawah 3 tahun? Itulah saatnya kasih orang tua paling melimpah, dengan jumlah gendongan terbanyak, jutaan  belaian, peluk tak berkesudahan dan kecupan yang tak terhitung. Karena sungguh mati aku ingin mengingat saat-saat itu, saat yang pastinya paling manis dalam hidupku. Karena setelah umur 3 tahun aku dititipkan di rumah Bude dan ingatan masa kecilku bersama ibu seperti tulisan di papan tulis yang terhapus. Tak ada kenangan tersisa, padahal aku sangat butuh ingatan itu. Karena setelah tiga tahun, aku terus bertanya-tanya, mengapa aku ditinggalkan Ibu merantau ke Jakarta. Rasa sayang itu berangsur lenyap, karena setelah usia tiga aku tak mengenalnya.

Tubuh Ibu bergerak, tampak seperti ingin menghadap sisi kanan, tapi tubuhnya tak mampu membawa bebannya sendiri. Aku tak kuasa membantunya, karena tulangnya tak mungkin kuat menahan tubuhnya kalau berbaring miring. Pasti punggungnya panas harus tidur terlentang terus-menerus. Wajahnya mengernyit kesakitan, tapi matanya tetap tertutup. Tiba-tiba ia meletakkan kedua tangannya di atas perut dan mengaitkan keduanya seperti berdoa. Mulutnya komat-kamit. Lalu ia tertidur kembali. Seperti meminta kekuatan dari sesuatu yang tak terlihat, mungkin dalam mimpinya ada malaikat.

Sudah setahun ini kondisi Ibu tidak membaik. Tidak juga memburuk. Walau sudah cukup buruk karena ia sudah tak mampu melakukan segalanya sendiri. Aku hanya berdua dengannya di rumah ini. Yang terasa semakin luas dan sepi tanpa percakapan. Hanya aku yang mengajaknya bercakap, dan ia hanya memandangku. Kadang dengan tatapan terimakasih, seringkali dengan tatapan kesakitan, mungkin saat aku dengan tak sabaran mengangkatnya ke kursi roda atau mengganti pembalut dewasanya yang penuh kotoran dengan gerakan kasar. Paling sering ia menatap dengan pandangan kosong, yang bisa kuartikan apa saja. Kapan sakitku sembuh? Kenapa aku masih di sini? Kenapa tak kautinggalkan aku sendiri?

Orang-orang yang kutemui selalu bilang aku butuh istirahat. Perlu berlibur sejenak, sewa suster saja. Punya kakak atau saudara? Kakakku sudah terlalu tua untuk mengurus orang tua. Saudara-saudaraku entah kemana saat aku perlukan. Anak-anakmu? Kedua anakku terlalu sibuk. Dan mereka juga sudah punya anak kecil-kecil. Salah satunya tinggal di luar kota. Aku bukan Ibu yang rajin mengurus cucu, jadi aku pun tak berharap mereka membantuku mengurus neneknya, ibuku. Tapi sesungguhnya, aku tidak perlu istirahat berlebih. Atau bahkan liburan. Aku hanya butuh ingatan. Akan masa-masa kecil saat aku masih bermanja dalam gendongan. Masih dipeluk sambil berputar-putar. Saat Ibu mencintaiku penuh-penuh dan tanpa syarat.  Supaya saat ini aku bisa membalasnya, penuh-penuh dan tanpa syarat pula.

Setelah selesai SMP baru aku menyusul Ibu ke Jakarta.  Itupun setelah kupaksa-paksa karena aku sudah tidak betah tinggal bersama Bude. Aku bertumbuh cantik kata orang, tetapi kecantikan selalu membawa petaka. Sepupuku Bagas yang terkadang datang mengajakku bermain, semakin lama permainannya membuatku tak nyaman. Bahkan Paklik yang semula sering membawakan permen sekarang minta disuguhi kopi dan ditemani saat datang berkunjung ke rumah Bude. Mengapa aku? Lebih baik aku membantu di dapur saja daripada duduk di sebelahnya untuk dipandangi dan dielus-elus rambutku seperti waktu aku masih SD. Aku limbung, tanpa pelindung. Lagi-lagi aku menyalahkan Ibu. Mengapa sangat penting baginya untuk ke Jakarta dan mengapa aku sangat tidak penting baginya? Bude selalu bilang, ibu bekerja untukku dan kakakku, karena sudah tak ada bapak yang menafkahi. Saat itu aku cuma bilang, aku sudah tak punya bapak, tapi juga seperti tak punya ibu.

Aku bangkit dari dudukku di samping pembaringan ibu. Sendi lututku nyeri. Untuk usiaku yang lima puluh tujuh, sebenarnya kondisiku tidaklah buruk. Masih cukup sehat dan bisa hidup dari pensiun. Tadinya aku punya segudang rencana setelah pensiun. Berjalan-jalan, senam bersama ibu-ibu komplek, ke luar kota mengunjungi saudara. Ternyata sudah hampir dua tahun aku jarang keluar rumah, mengurus ibu. Rencana pensiunku berantakan. Ibu yang hanya kukunjungi sesekali karena kesibukanku dulu, sekarang harus kutunggui hampir 24 jam sehari. Dulu masih mending, Ibu bisa kuajak keliling komplek dengan kursi roda. Tetapi setahun belakangan ia sudah tak kuat lagi menahan guncangan dan perlakuanku yang makin tak sabaran.

Ruang tidur ini tiba-tiba terasa terlalu suram. Dan baunya, ya baunya. Bau orang tua. Bahkan aroma sabun sudah terkalahkan. Bau tanah kata orang. Tapi rasanya kurang tepat. Lebih mirip bau debu. Mendadak aku bergidik. Dari debu kembali menjadi debu kata Alkitab.

Kupandangi foto ibu sewaktu masih muda, saat aku SMEA di Jakarta. Ia masih berkebaya dengan sanggul Jawa. Di Jakarta pun kami tidak tinggal bersama. Karena aku tinggal bersama Mbak Titi yang sudah berkeluarga, dan lebih dekat ke sekolah. Sementara Ibu tinggal di kontrakan lain di tengah kota. Di daerah Menteng kata mbak Titi, tempat orang kaya tinggal dan memesan jahitan baju ke Ibu yang sudah terkenal handal. Aku hanya seminggu sekali mengunjunginya, atau ibu mengunjungi kami. Rumah kontrakannya kecil, terasa penuh dengan kasur dan mesin jahit. Tapi Ibu orang yang apik. Jahitannya bertumpuk tapi rumahnya tak terlihat berantakan. Saat yang kupikir kutunggu-tunggu karena akan lebih sering bertemu dengan ibu yang kurindukan ternyata berjalan datar. Ia tidak seramah bayanganku, pun tak sering memanjakanku. Saat itu aku sadar, aku merindukan yang tak ada. Ia hanya sosok di masa lalu, dan buat orang yang merindu sosok itu jadi seperti dongeng. Mimpi indah yang tak nyata.

Anak-anak adalah penilai orang tua yang paling kritis. Nilai dan moral kehidupan dianutnya dari orang tua. Orang tualah mercu suar anak dalam mengarungi laut dunia. Saat aku tersadar akan kenyataan, aku memberontak. Mengapa di semua cerita sosok ibu adalah yang paling menyayangi, memanjakan, mengasuh anaknya tanpa syarat? Siapakah ibu yang melahirkan aku ini? Hatinya keras dan sosoknya terlalu tangguh buatku. Kisah dan nilai yang tadinya kuanut tentang seorang ibu musnah. Ia bukan ibu buatku, ia hanya seorang perempuan lain yang mampir dalam hidupku. Lagi-lagi aku limbung. Pernah sekali kuajaknya berakhir pekan dengan berjalan-jalan, tapi Ibu menolak halus. Aku harus menemui orang yang memesan jahitan, Dwi. Sekarang Ibu terima pesanan di hari sabtu minggu, menambah tabungan untuk biaya nikahmu. Dalam hatiku menjawab, mungkin aku tak usah menikah saja Ibu, kalau itu membuatmu menolak anakmu yang sudah terlalu lama kautinggalkan ini. Rindu itu tiba-tiba hilang, dan aku merasa benci padanya.

Ternyata aku toh menikah. Tanpa mengerti bagaimana menjadi istri dan memperlakukan suami. Tanpa bayangan bagaimana suami memperlakukan istrinya. Aku hanya seperti air sungai yang mengalir. Terkadang airnya tenang, kadang berbelok, kadang menggerus batu, kadang terjun dari ketinggian. Dan saat aku punya anak, aku juga tak pandai bersikap menjadi seorang ibu. Dengan punya anak dan segala kerumitan yang dibawanya, aku lebih senang menghabisakn waktu bekerja. Enaknya saat aku punya anak, kami bisa punya pembantu. Jadilah kedua anakku diurus pembantu, dan ayahnya yang ternyata lebih telaten mengurus anak ketimbang diriku. Satu saat kusadari, aku makin menyerupai Ibu. Yang sosoknya pernah kubenci. Tapi sudah terlambat. Saat itu mungkin anak-anakku pun sudah membenci aku.

Aku menuju pembaringan di ujung kamar. Entah kapan aku dan ibu mulai tidur sekamar. Rasanya sudah lama sekali. Malam-malam yang sepi hanya ditemani suara cicak. Terbangun serentak mendengar suara rintihan. Mengambilkan minuman. Mengganti popok. Menggantikan baju yang basah. Mengelapkan keringat. Malam yang terasa lebih panjang daripada hari. Gelap yang terasa lebih lama daripada cahaya. Aku selalu kelelahan saat berbaring. Tetapi selalu siaga saat terbangun menjalani ritual yang sama. Dari mana energi itu berasal? Benar kata orang, semakin tua orang semakin seperti bayi. Mudah-mudahan kali ini aku lebih sabar kali ini. Karena dulupun aku tidak pandai mengurus bayi. Mulutku berkomat-kamit mendesah doa. Tuhan, belum cukupkah kami menebus dosa-dosa dunia, kapan kau sudahi penderitaan ibuku dan aku? 

 

written a longtime ago, dedicated to Ibu dan alm. Mbah Putri

Monday, August 06, 2018

First 42,195K [Full Marathon Pertama]

Baca cerita-cerita pelarian, saya jadi pengen berbagi juga.

Pertama kali race 5K sekitar 5 tahun lalu, di acaranya Capital Run Jakarta di SCBD. Rasanya seneng bisa lari rame-rame. Daftar race kedua ambil 10K. Karena merasa rugi kalo cuma beda 50rb, mending ambil jarak lebih jauh, hahahah #emakirit. Habis itu lanjut Pocari (jaman masih di BSD), dan di Jakmar langsung daftar HM. Habis itu no turning back. Sampe akhirnya tahun lalu sudah daftar FM di Jakmar, tapi BIB saya lepas. Karena kurang latihan. Kenapa kurang latihan? Baru pindah kerja, jadwal belum teratur. Anak baru masuk SD, ngga tega ninggalin lama-lama. Takut sakit. saya pernah baca, setelah lari endurance semacam FM, ginjal kita bekerja berat. Sementara saya dulu kala pernah gagal ginjal akut. Tapi saya senang FM itu saya batalkan, karena ternyata MENTAL saya belum siap.

Tahun ini mungkin irama hidup saya lebih teratur. Dan kebetulan ada teman2 yang menyemangati. Dan yang lebih penting ada teman untuk latihan longrun, dengan pace yang bisa saya ikuti. Karena menurut saya ini yang paling penting untuk persiapan FM. Jadi buat emakrempong kayak saya, yang saya cari adalah jadwal latihan FM for beginners, kalau bisa 3 kali seminggu saja. Saya print jadwal 16 minggu, dan tandai tanggal-tanggalnya sampai nanti hari-H. Yang paling penting adalah jadwal hari Minggu saat longrun, target kilometer harus bisa dipenuhi. Saya overlay juga dengan jadwal keluarga terutama anak-anak, supaya terlihat kalau mesti skip/pindah hari latihan. Plus I have to consider that I have no live-in maid (just part-time), driving kids to school, working fulltime, and still cook for the family. Lalu dimulailah latihan ala saya.
  • Seminggu minimal 3x termasuk longrun, jarang sekali sampai 4x.
  • Diusahakan interval minimal 1x seminggu.
  • Crosstraining? Mmmm...mostly susah cari waktunya hahaha
  • Longrun bertahap saya mulai 10K, ditambah setiap minggunya (12, 15, 18, 21, 25).
  • Longrun bersama teman2 jauh lebih menyenangkan, saya janjian lari bareng di 21, 30, dan route-test 35K.
  • Setiap longrun ngga cari pace, yang penting terpenuhi dan bisa merasakan vibe jaraknya.
  • Kalau lari pas menstruasi bisa dibantu multivitamin, but no painkiller
  • Always enjoy and have fun... hear your body, stop when it tells you.

Jadi buat teman emak2 yang masih ragu... I think you can do it :)


Ps. Please note this minimum training will result a minimum target; as expected I finished under COT with a big smile, no injury, and ready to roll the day after. Not Bad for a 44 year old!

Friday, April 21, 2017

The Movement

This was written right after first round election for Jakarta Governor.

Do you realize if there's no second round election, Ahok had already won?
He is not all about politics. 
He IS a Movement. Like no one has ever done before in this beloved country. 

I almost lost myself in one-dimensional face of Indonesia, fear of loosing my root and Indonesian culture in the future. But Ahok gives hope. That there's still a place for diversity and minority.

Terimakasih Ahok untuk sumbangsihnya buat Jakarta dan NKRI. Kamulah pemenang sebenarnya di mata saya.

Dari saya, yang ngga ada sumbangsihnya buat negara.

Monday, July 25, 2016

B I B



Hari ini tanggal 22 Mei. Sepuluh tahun lalu tepat di tanggal dan hari Minggu yang sama Bapak meninggalkan bumi.
Hari ini pula saya ikut lomba lari, run race dari pocar! sweat, kategori half marathon alias 21,195 kilometer. Ini HM kedua buat saya.
Saat mendaftar untuk nama di nomor dada, saya menulis DY LOVE DAD. Kenangan tentang Bapak tak pernah lekang, selalu dirindukan.

Saya bayangkan, kalau masih ada Bapak pasti ia tak segan menemani saya lari di race ini, paling tidak sambil berjalan.
Karena ia suka mencoba hal baru, dan tak segan berada di keramaian, selain memang senang berolah badan. Walau tetap sambil mengepulkan asap hahaha.

Ah Bapak, Jakarta sudah jauuuuhhhh berbeda saat saya masih kecil dan sering keliling kota Jakarta bersama Bapak.
Lari saya kali ini untuk Bapak.

Thursday, September 10, 2015

I Love You Pisan, Pak Suroto!

"I love you pisan, Ma...." ucap Damian sambil memelukku. Kala itu ia masih berusia 7 tahun, kelas satu SD semester dua. Semester satu ia masih menuntut ilmu dasar di sekolah negeri di Maryland, USA. Kemudian kami memutuskan pindah dari Amerika ke Bandung setelah 6 tahun berdomisili di sana. Otomatis Damian mempunyai kendala bahasa ketika mulai sekolah baru. Sesampainya di Bandung saya sengaja tidak memasukkannya ke sekolah International School yang sedang trend saat itu. Tapi resikonya, ia harus mengikuti pelajaran Basa Sunda, di samping mempelajari Bahasa Indonesia yang masih sangat tertinggal.

Jangan salah, selama di Amerika kami menggunakan Bahasa Indonesia di rumah, tetapi rupanya Damian lebih lancar berkata-kata dalam Bahasa Inggris. Perbendaharaan Bahasa Indonesia-nya hanya sebatas pemahaman. Jadilah selama beberapa minggu di awal sekolah baru saya mengajarinya Bahasa Indonesia terlebih dulu. Menurut saya, yang penting ia naik kelas dan memahami pelajaran yang disampaikan dalam Bahasa Indonesia. Mengenai Basa Sunda, ulangan pertamanya mendapat nilai nol tentu saja. Bahasa gaul? Tampaknya lebih cepat terserap lewat permainan dengan teman, maka terlontarlah kata-kata itu," I love you pisan, Ma..." Bahasa campur aduk yang bahkan tanpa ada kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Oops..

Dipercepat tiga tahun kemudian, yaitu saat ini, saya sudah tidak kuatir dengan kendala berbahasa Damian. Banyak anak lain yang dibesarkan dengan dua bahasa dan mereka memiliki keuntungan lebih sebenarnya, selama mereka tidak dipaksa. Damian sudah menikmati buku-buku berbahasa Indonesia termasuk buku cerita rakyat hadiah waktu kecil yang selama ini teronggok. Saya sendiri suka membaca dan menikmati cerita-cerita rakyat hingga karya sastra favorit saya dari pengarang Achmad Tohari hingga Pramoedya Ananta Toer alm. Maka buku-buku mereka saya koleksi dan mudah-mudahan dinikmati Damian jika ia sudah tertarik kelak.

Saya harus berterimakasih pada Pak Suroto, guru Bahasa Indonesia saya di SMA dulu karena menggugah kesukaan saya akan menulis dan membaca karya sastrawan Indonesia lama.

Saya masih ingat semangatnya kala membahas buku trilogi Achmad Tohari, atau memberi tugas menulis resensi buku. Ia juga membuat kami menulis biografi tentang dirinya, dengan cara seolah-olah ia tokoh yang diwawancara di depan kelas. Maka kami seolah-olah adalah wartawan yang mewawancarai selebritis dan kemudian menuliskan kisah hidupnya. Saat itu, saya menyadari betapa tiap orang istimewa tanpa kecuali, karena memiliki cerita hidupnya sendiri-sendiri.

Pak Suroto juga yang memberi tugas membuat kliping Cerpen Kompas selama 10 minggu berturut-turut. Kami harus membaca cerpen yang muncul tiap hari minggu, kemudian menggunting dan menempel cerpen itu di kertas HVS, kemudian mengetik resensi tentang cerpen tersebut. Resensinya harus lengkap, dari tokoh-tokohnya, sifat-sifatnya, jalan cerita, tema cerpen tersebut, hingga hikmah yang bisa diambil. Untuk menulis resensi kami masih memakai mesin tik kala itu, di awal sembilan puluhan. Komputer sudah ada, tapi masih menjadi barang mewah. Kemudian setelah sepuluh cerpen dalam sepuluh minggu dengan sepuluh resensi terkumpul, kliping itu dijilid dengan sampul karton biru yang menerakan judul kliping. Yang unik, judul kliping resensi diambil dari judul cerpen pertama dan cerpen terakhir. Karena tiap anak menyusun sepuluh cerpen dengan susunan yang berbeda, maka judul-judul aneh pun muncul. Amarah Ayam Bekisar. Anjing Malam Kelana dari Padang. Semacam itulah. Maka puas sekali rasanya saat mengumpulkan tugas tersebut, seperti sudah membuat buku sendiri. Paling tidak buku resensi.

Belum lama ini saya berbicang dengan rekan sekantor yang hobi menulis. Usianya di sekitar pertengahan duapuluhan, berbeda sekitar satu dekade dengan saya. Bincang punya bincang, saya menanyakan apakah ia menyukai penulis Pramoedya Ananta Toer alm. Ternyata ia belum pernah mendengar nama itu.... Krik...krik...krik... Sungguh tercengang saya. Lho, apa saja materi dan kurikulum Bahasa Indonesia di sekolah umum sekarang?

Tiba-tiba saya kangen Pak Suroto.


written in September 2012

Tuesday, April 29, 2014

Tips untuk Pelari Pemula

So... I did my first 5K Run Race last Sunday. It felt awesome. Especially I did it when I already turned 40, after my second child is 2,5 yo.
But as it's already been said, it's never too late to start. And in this case it's never too late to finish a race.

Sekedar berbagi, ada beberapa tips yang ingin saya sampaikan sebagai pelari pemula. Tips ini mungkin sudah banyak dibahas di website lain, tapi ini sesuai dengan pengalaman pribadi saya.

Gunakan sepatu yang sesuai untuk lari, dan baju yang sesuai untuk olahraga lari.
Sepatu ternyata sangat penting karena dengan berlari, pada saat kaki memijak tanah kaki kita menopang 5 kali berat tubuh. Sepatu yang tepat membantu support kaki dalam menghindari cedera. Baju yang sesuai untuk lari juga penting karena tubuh akan berkeringat cukup banyak, jadi dibutuhkan baju yang ringan dan cepat kering. Hindari bahan katun karena akan menyerap keringat dan baju menjadi basah. Bisa-bisa setelah lari malah masuk angin.
 
Lakukan pemanasan sebelum lari dan peregangan setelah lari. Gunakan teknik berlari dan bernapas yang benar.
Ini sangat berpengaruh terhadap endurance selama berlari dan menghindari cedera akibat teknik yang tidak tepat. Biasanya cedera pelari di bagian pergelangan kaki dan lutut. Silakan mencari di youtube untuk langsung mengikuti teknik pemanasan, peregangan, dan berlari yang baik. Lebih baik mencari dalam bahasa Inggris karena biasanya lebih informatif secara visual, kita tinggal mengikuti gerakannya.
 
Jangan terlalu berambisi jika baru saja mulai latihan lari.
Saya sendiri suka olahraga dari dulu tetapi sangat tidak konsisten karena kesibukan sehari-hari. Saya baru mulai rutin latihan 6 minggu sebelum race. Tidak perlu langsung berlari cepat dalam waktu selama mungkin. Cukup berlari 2 menit dan jalan 1 menit secara berulang selama setengah jam, hingga 8 menit lari 2 menit jalan dilakukan 3 kali selama 30 menit. Kalau sudah nyaman bisa berlari 14 menit dan jalan 1 menit di minggu ke 4. Yang penting adalah konsistensi dan 'listen to your body'. Latihan perlu rutinitas minimal seminggu 2 kali. Menurut saya paling baik minimal seminggu 3 kali supaya terasa kemajuannya. Awalnya saya juga tidak terlalu memperhitungkan pace berlari. Tapi lama-kelamaan, berlari bikin saya ketagihan, sehingga jarak dan pace bisa naik dengan sendirinya.
 
Gunakan aplikasi smartphone jika memungkinkan
Selain lebih terukur, ada program coach di nike+ misalnya, yang membantu mencapai goal tertentu. Jika suka bisa sambil bersosialisasi juga. Selain itu mendengarkan playlist sangat membantu saya bersemangat lari. Jangan lupa dibantu dengan tempat penyimpanan smartphone selama berlari misalnya menggunakan armband atau spibelt.
 
Untuk para wanita: gunakan sport-bra
Tujuan yang terpenting selain menopang adalah menghindari luka gesekan selama berlari. Wired-bra is a big no-no. Enough said.
 
Ada waktu istirahat (rest day) dan cross-training
Tubuh tentu saja perlu istirahat, dan cross-training perlu untuk memperkuat bagian tubuh yang kurang terpakai saat berlari, selain menghindari kebosanan.
Saya sendiri cukup mencari video Zumba dan berlatih di rumah.


Do it for Fun
Last but not least, keep it fun and simple. I am not aiming to be an athlete. Being healthy and having fun doing it is good enough. Oh and for BONUS you'll lost a few centimeters on your waist and hips and thighs. How 'bout that ladies :)


That's why I like running, I can just grab my shoes and out the door within minutes and start moving. No traffic nor special gears. Just you. Just do it.

Tuesday, January 21, 2014

5 Alasan Saya Tidak Menulisi Blog Tahun Lalu

NOT. GOOD.
Setahun lebih saya tidak menulis di blog. Sama sekali. Dan ini sudah Januari. 2014!
5 alasan mengapa tahun lalu saya tidak menulisi blog ini tanpa menjadi klise:

Tidak bisa mengatur waktu
Saya masih bekerja full-time, punya 2 anak, dibantu ART yang pulang hari. Memang saya kurang tidur. Tapi saya masih lebih suka nonton Spartacus series ketimbang menulisi blog di malam hari. Maka tidak punya waktu alias sibuk bukanlah alasan, saya hanya tidak bisa mengatur waktu.

Selalu tergesa
Saya tidak menyempatkan diri untuk berhenti, menarik nafas, dan menghirup harum hujan. Kalau rintik hujan yang indah membasahi tanah saya malah sibuk menutup pintu atau jendela atau mengecek jemuran supaya tidak kehujanan. Ide menulis yang katanya habis sebenarnya tidak pernah disempatkan untuk mampir, maka ia lewat begitu saja.

Mencari di tempat yang salah
Kalau sedang niat menulis blog, saya malah melihat-lihat blog orang lain dan artikel yang menurut saya menarik. Lalu tersambung ke link yang lain lagi. Jadilah saya tersesat, merasa 'penuh', dan tidak jadi menulis.

Saya tidak jujur
Tulisan harusnya tidak diedit dari sisi perasaan/feel tulisan tsb. Begitu saya menulis dan mengedit dalam hati, perasaan saya ikut di-edit. Masih tidak jujur. Jadinya yang tumpah adalah tulisan jaim yang datar. Bukan saya. Lalu saya hapus karena saya tidak suka.

Kehilangan teman nge-blog
Bukan maksudnya menyalahkan teman-teman ngeblog yang sudah tidak nulis (hello bloggers tahun 2007-an... whattt??) Sekarang bloggers sudah luar biasa amat banyak saya sudah malas blogwalking. Tanpa teman memang kurang semangat rasanya, dan saya sendiri bukan blogger sosialita.


So, begitulah alasan saya. Ini tahun baru dan sebenarnya saya sangat kangen nulis. Kalau setelah ini saya akan absen nulis dalam jangka waktu yang tidak terbatas, paling tidak tahun 2014 blog saya tidak melompong.

Tuesday, October 23, 2012

Seperti

Kuingin dicinta
Seperti bulan menunggu matahari terbit
dan hadir saat ia lelah
Seperti muara pengantar air
dari sungai ke lautan luas
Seperti angin meniup lembut
sang daun yang ingin terbang bermain
Seperti salju membeku di atas batu
menunggu musim semi membuatnya cair
Seperti musim gugur
yang sumarah dengan warna indah
Seperti hujan melepas dahaga ilalang kering
Seperti belaian musik yang membuat hati berdendang
Seperti kertas putih yang rela dicoreti
Seperti bening mata bayi
yang penuh cinta tanpa sepatah kata
Aku ingin dicinta
tanpa sederhana

Monday, September 03, 2012

For F

sebening mata bayi
dengan bolanya nan coklat besar
menatap tanpa syak
mengundang rengkuh tanpa ucap

semungil jari-jari kecil
bergerak belajar meraih
warna kecil dalam genggaman mungil

seharum nafas susu ibu
mengeja ilmu dalam dadada
mulut mungil seharum susu

kaki gendut menapak bumi
betis serupa akar singkong
paha montok mengundang cubit
siap jelajah bentang dunia

tiada kecap pun ucap
selain belaian peluk kasih seluas dada
selapang daratan memayungi terik pun rintik
si kecil terkasih

Thursday, June 21, 2012

Me, My Kids, and Daycare

Sewaktu kami tinggal di USA dan saya bekerja, Damian kami titipkan di daycare. Waktu itu usianya dua setengah tahun. Tentu saja karena tidak ada pilihan lain, terutama seperti di Indonesia yang mudah memiliki babysitter pribadi. Baby Daycare hingga Elementary School sangat umum dan wajar di sana. Bahkan didukung dengan peraturan dan hukum yang jelas. Maka institusi daycare sangat bisa diandalkan, walau tetap 'ada harga ada rupa' berpengaruh pula terhadap kualitas daycare.

Dulu saya survey ke beberapa tempat sebelum menitipkan Damian, bahkan sempat memindahkan Damian dari daycare pertamanya karena merasa tidak cocok dengan sistem yang diterapkan. Saya cukup beruntung waktu itu masih bekerja paruh waktu sehingga transisi pun bisa berjalan lebih halus. Walau, tentu saja, ibu dan anak dua-duanya berlinang air mata saat berpisah setelah sekian lama menghabiskan waktu bersama seharian sejak bayi. Sejak saat itu hingga Damian berpindah sekolah, ia terbiasa dengan suasana daycare.

Menurut saya daycare berefek positif karena jadwal yang teratur membuat Damian lebih terstruktur dan mandiri, juga kesempatan sosialisasi dengan teman-teman sebaya. Selain itu orang tua juga mendapat laporan harian; dilarang menitipkan anak yang demam/sakit, dan membayar denda (per-menit!) jika anak terlambat dijemput. Intinya, orangtua tetap dilibatkan penuh dalam menjaga/merawat anaknya, dan menghargai pengasuh. Kekurangan dari daycare? Tentu saja ada, seperti anak mudah tertular sakit dari teman (biasanya flu), kadang karena terlalu senang bermain dengan teman sampai rumah sudah lelah.

Sekarang setelah memiliki anak kedua, Fabian, tak dinyana kami menitipkan anak kedua kami ini di daycare bayi. Apa pasal?

Bayangan saya dengan tinggal di Indonesia akan sangat mudah mencari asisten rumah tangga. Ternyata harapan jauh dari kenyataan. Tidak ada yang sesuai keinginan saya, pun tidak ada yang bertahan lama menetap di rumah. Dan saya yakin bukan karena saya yang bermasalah dalam memperlakukan mereka. Kesimpulan saya, untuk membantu rumah tangga saja sulit, apalagi babysitter yang bagus dalam menjaga bayi? Tegakah saya meninggalkan bayi saya dengan babysitter di rumah berdua saja tanpa pengawasan keluarga? Tentu saja Tidak. Kondisi kami saat ini adalah orangtua kedua pihak tinggal di luar kota, jadi sama sekali tidak ada keluarga yang membantu mengawasi. Maka tidak ada pilihan lain selain menitipkan bayi di daycare. Sementara ini berhenti bekerja bukanlah pilihan buat saya.

Maka dimulailah kembali survey daycare yang sesuai dengan keinginan saya (oya, suami ikut menemani, tetapi keputusan tetap ada pada saya). Di Bandung boleh dibilang hanya ada satu -dua yang benar-benar bagus, sedikit yang bagus, dan cukup banyak yang biasa saja atau kurang menurut penilaian saya. Yang lebih sulit lagi adalah karena saya sendiri punya pengalaman menitipkan anak di daycare sebelumnya, jadi sedikit banyak saya berharap ada semacam standar yang menyerupai waktu di USA dulu. Kalau di Jakarta, mungkin daycare semacam itu akan menjadi amat sangat mahal. Untunglah di Bandung biaya daycare yang bagus masih dalam jangkauan. Akhirnya kami memilih salah satu daycare yang sekaligus satu lokasi dengan sekolah PAUD untuk tempat tumbuh kembang Fabian sehari-hari. Penilaiannya pertama-tama karena kebersihan tempat, sistem yang profesional, lingkungan yang sesuai dengan keinginan saya , pengasuh yang sayang anak plus trampil, dan terutama pengawasan pemilik dalam lingkungan daycare. Kelebihan lain adalah adanya klinik dan dokter anak yang masih berada dalam satu kompleks.

Waktu cuti melahirkan saya habis dan harus berpisah dengan Fabian, saya tersedu sepanjang jalan ke kantor. Bahkan ibu saya sendiri kurang mendukung, walau tidak bisa membantu lebih. Tapi saya berpikir, jutaan ibu lain mengalami hal yang sama, entah dititipkan di mertua, di rumah dengan babysitter, atau seperti saya, di daycare. Maka saya menguatkan hati. Pun saya harus memerah ASI untuk kebutuhan ASI Fabian setiap hari. Setelah saya berdamai dengan hati saya sendiri, ternyata banyak teman sekerja yang berkomentar negatif dengan keputusan saya menitipkan Fabian di daycare. Dengan tatapan tak percaya, beberapa berkomentar,” Haa... elo tegaa?” Jeeez... seolah saya sekejam ibu tiri. Akhirnya kalau ditanya orang yang kira-kira tidak sepandangan, saya tidak banyak cerita. Tapi kalaupun bercerita, saya cerita selengkap-lengkapnya, tentang pilihan saya, latar belakang, tempat yang saya pilih, dll.

Akhirnya Ibu saya dan teman yang kebetulan nebeng ikut mampir ke daycare Fabian mengakui; daycare pilihan saya bagus, pengasuh-pengasuhnya sangat terlihat sayang anak dan berpengalaman, terlebih Fabian tumbuh sehat dan aktif. Memang terkadang tertular flu, tetapi pertumbuhannya baik dan kami memperoleh laporan triwulan dari daycare, di luar buku laporan hariannya. Bahkan Fabian sangat apet dengan pengasuhnya, seperti keluarga sendiri. Saya seringkali bersyukur memperoleh tempat yang sesuai untuk Fabian sejauh ini. Walaupun seringkali saya kangen dengannya sewaktu bekerja, terutama setelah menghabiskan akhir minggu bersama. Well, ibu mana yang tidak?

Saat ambil rapor saya ngobrol dengan salah satu ibu yang bayinya baru masuk daycare. Ternyata kakak si bayi sudah lebih dulu dititipkan dan ibu ini puas dengan daycare yang sekarang. Ia juga trauma sewaktu anak pertamanya diasuh babysitter, karena ada kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan terhadap anaknya walaupun di rumahnya juga ada pembantu lain yang ikut mengawasi. Saya pikir untunglah saya tidak membiarkan Fabian diasuh babysitter sendirian saja. Sang ibu yang juga dokter ini bahkan mengatakan, perkembangan motorik anak keduanya lebih baik ketimbang anak pertama karena tidak sering digendong pengasuh daycare. Well, saya pikir, tentu saja ibu-ibu akan berusaha memberi yang terbaik untuk anaknya. Di masa mendatang saya yakin daycare akan semakin banyak dan berkembang karena kebutuhan dan karena tidak mudahnya mencari pengasuh/babysitter yang bisa diandalkan. Maka, kalau memang dibutuhkan, daycare bisa jadi pilihan.

Thursday, April 05, 2012

Howdy

Apa kabar dy? Hmmmm... sulit menjawab, terlalu banyak peristiwa. 
 
I have my good days and bad ones in this beloved messed-up corrupted beautiful country. But those don't matter much right now. Buatku peristiwa terbesar adalah kelahiran adik Damian: Fabian. Rasanya tahun ini disimpulkan oleh manusia mungil nan gembil, who's taking the biggest space and time of me. Berjuta ibu mengalami hal yang sama, so i won't brag about motherhood, sleepless nights, etc. Find it in some mommies forum instead. 
 
I miss some 'me time', but realize this Fabian time won't come again twice. So I just go along and enjoy it. There's always time for everything. Oh, and I miss writing. I miss my own thoughts. And pour them out on poetic words....(silence).... I do hope I'd be able to do this again. Soon. Really, apa kabar dy? Oh... kabar saya, detik ini: bahagia.
 
as of Nov 12, 2011. 11:53am

Monday, April 04, 2011

Us, Adults.

This is what happened when we're getting older, or supposedly more mature, or I would say above 35 years of age.
 
We become comfortable of who, and what we are. We care less of what people say or think about us. We're less afraid of making the same mistake, that is if we even realize it. We've been doing the same thing the same way, and if others don't fuss about it we just move on. We would say 'I am what I am'. We hardly think of changing ourselves. Either people can accept us, or they can't. In a way, it's a good thing to be confident. But a lot of times it's egoistically scary.
 
Kids look for approval from adults, youngsters seeks their identity, adults just become adults. They've been tired of approval from others, and seeking for identity. They almost become what they wanted to be, just wanted to be themselves. Try to tell your mom to change their hairdo, their way of walking in the middle of the street, the way they bargain for sale price. She won't. And so won't we.
 
On the other side, we become more permissive of what other adults do. Let him/her be. That's just the way he/she is. Or move aside to let them move along. We just become ignorant. We care less. Change belongs to other planet. We just try to make peace. We might save the argument, but not the war within.
 
Sometimes, it's just not about us, adults. It's about something else. Or someone else. Not us.

Friday, May 28, 2010

Satu Subuh di Hari Sabtu

Satu subuh di hari sabtu. Malam sebelumnya hanya tertidur sebentar, tak lelap. Begitu terbangun langsung terpikir hal-hal yang harus diselesaikan. Rasanya banyak, masih terlalu banyak. Untuk waktu yang demikian sempit.
 
Langit diluar mendung, udara menggigil. Awal musim dingin yang kelabu. Lengang seperti kampung tak berpenghuni. Suara dalam ruang menggema, sudah tak banyak barang di sana. Hampir melompong. Tiba-tiba terasa amat sunyi, hanya bunyi langkah kaki tergesa kami, percakapan pendek pendek, desing angin di luar. Pikiran kami terasa memecah hening, lebih berisik dibanding alam nyata. Terlalu penuh dengan rencana, skenario, kekuatiran akan terlambat, mengharap cuaca lebih bersahabat. Tentu saja, Damian masih tidur.
 
Tanpa kopi seperti rutinitas biasanya, coffee maker sudah tak ada. Harus gerak cepat. Memilah barang tersisa yang harus dibuang atau dioper ke teman. Mandi, membangunkan Damian, menelepon teman yang akan mengangkut barang. Termasuk kasur lipat besar yang kami pakai semalam. Kasur yang asalnya dari sofabed, dari Ikea enam tahun lalu. Sofanya sudah lama rusak, tapi matrasnya masih bisa dipakai. Berjasa mengalas kami tidur kalau ada tamu yang menginap. Telepon sudah diputus, pula telepon genggam. Bisa dibayangkan deringnya tak putus kalau masih tersambung. Kupikir masih ingin menelepon sana-sini, tapi menyadari takkan sempat.
 
Damian sudah mandi, kupanaskan hotpocket instan di microwave. Saat itu terdengar ketokan di pintu. Sari yang selalu berwajah ceria tersenyum lebar, dipeluknya aku hangat. Butiran hujan membasahi kupluk sweaternya. Bertukar cerita, tertawa, janji saling menghubungi. Lalu memindahkan barang ke mobilnya. Kami tergesa, ia mengerti. Tak bisa meninggalkan tiga anak di rumah terlalu lama, katanya. Matrasnya akan berguna buat orang Indo yang baru datang, tambahnya. Berpelukan lagi. Ada sedikit haru, ditimpali rintik gerimis. Tapi kami harus bergegas. Kali ini memasukkan barang yang hendak dibuang ke mobil untuk dibawa ke pembuangan. Bantal-bantal bereces Damian, seprai kumal, bedcover besar, standing lamp yang tidak lagi tegak, alat listrik tak terpakai. Rasanya tak ada habis.
 
Kami berkendara menuju dumpster kota. Jauhnya sekitar setengah jam dari apartemen. Damian duduk di belakang, terhimpit barang dan box. Dia tidak protes, selama ada game di genggamnya. Baru memasuki I-83 hujan tambah deras. Bukan cuaca yang bagus, mengingat dumpster jadi sangat becek.
Dan tiba-tiba salju mulai berjatuhan dari langit. Putih, cantik, suram. Tak biasa di awal Desember. Ajaib. Hampir tak bisa berkatakata, antara meresapi keindahan salju, bersyukur diberi kesempatan terakhir menikmatinya. Ditimpali kekuatiran akan jalan macet jika cuaca memburuk. Hampir merasa besar kepala, terpikir kota inipun menangisi kepergian kami.
 
Berulang kali kami ke tempat pembuangan ini sebulan terakhir. Area pembuangan yang sangat besar tapi cukup teratur. Areanya terpisah menurut jenis barang. Yang bisa didaurulang dipisahkan lagi, dari ban mobil, alat listrik, kardus, gelas, bola lampu. Lalu kami menuju area paling belakang, tempat pembuangan sampah paling besar, bentuknya seperti bendungan besar, hanya tanpa air. Pinggirnya dibuat parapet pembatas dengan area parkir, jadi orang yang parkir mundur bisa langsung membuka bagasi dan melempar sampahnya ke dalam dam sampah itu. Dari furniture, kasur, kayu, segala rupa tetekbengek yang dianggap tak terpakai lagi. Kami langsung parkir dan bekerja, tak sempat mengucapkan selamat berpisah pada barang-barang yang baru berusia enam tahun.
 
Rintik hujan masih menemani. Renda salju masih melayang di udara. Jalan becek dan licin. Kami berdoa dalam hati, semoga perjalanan ke airport nanti tak terhalang cuaca.
 
Sesampai di apartemen kami langsung beberes lagi. Damian menolak masuk, ingin main salju dulu katanya. Lidahnya sudah terjulur keluar saat pintu mobil terbuka, menadahi renda salju, mengecapnya. Kubiarkan ia.
 
Harus berangkat jam sepuluh, dan ini sudah jam sembilan. Aku mengumpulkan buku yang hendak ditinggal di meja mesin laundry di basement. Semoga berguna buat penghuni lain. Saat naik lagi ke atas aku berpapasan dengan wanita tua yang tinggal satu lantai di atas kami. Aku langsung bercerita dan berpamitan. Kami tinggal berdekatan walau tak akrab. Tapi ia salah satu tetangga yang baik, menyemangati Damian yang belajar sepeda, meninggalkan kartu natal dan kue kering di muka pintu di hari natal. Kami selalu bertegur sapa, ia sempat bercerita soal kanker yang menyerang dirinya, dan kemoterapi yang harus dijalani. Wanita yang baik hati, ia memeluk kami berdua. "You are brave people," katanya. Matanya berkaca.
 
Mungkin sulit dibayangkannya, kami yang melanglangbuana, akan terbang nanti malam langsung pindah ke negeri yang asing. Mungkin seumur hidupnya ia sendiri tak banyak bepergian, seperti umumnya orang di sini. Kami berpamitan pula pada tetangga yang tinggal di bawah apartemen kami, yang saudaranya karyawan UPS dan selalu menyimpankan paket yang tergeletak di pintu depan. Ia kelihatan tak percaya, membayangkan segala kerepotan yang kami jalani. Maaf, kami harus bergegas. Mereka mengerti, mengucap selamat jalan sekali lagi.
 
Damian masih bermain salju, kami memasukkan koper-koper ke bagasi. Nyaris tak cukup. Lalu kami memeriksa seluruh kamar, lemari, dan laci. Tak ada yang tertinggal. Kami siap berangkat. Damian berlari lagi ke bawah. Aku mengunci pintu di belakang kami. Iyus mengambil tag nama yang masih menempel di pintu. Nama lengkap kami berdua.
 
Kami berpandangan, mata kami berkaca. Lalu berpeluk erat. Kelebat enam tahun melintas cepat, dasyat. Dada kami sesak. Haru dan nostalgi menjadi satu. This is it. Mataku masih basah saat menuju mobil, berbaur dengan butiran salju. Membisik selamat tinggal Baltimore dalam hati.
 
Mobil kami dipenuhi koper. Perjalanan masih 3 jam menuju JFK. Salju masih turun. Diseling hujan. Melewati interstate yang familiar. Pemandangan mengabut di jembatan Susquehanna River. Di kiri-kanan permukaan air tak kelihatan. Seperti mengapung di udara, menuju negeri di balik awan. New Jersey Turnpike lewat tanpa henti kali ini. Menahan rehat kopi hingga nanti. Highway memadat di exit Lincoln Tunnel. Garis langit Manhattan tertutup awan. Hanya pucuk Empire State Building menyembul. Lagi, dalam hati mengucap selamat tinggal NY. Lalu Menyisir pinggir air di Long Island yang sepi karena hujan. Tibalah di JFK. Menurunkan koper, Iyus mengembalikan mobil. Damian menunggu sambil bermain video game. Security perempuan yang ramah, tiba-tiba mengajak ngobrol, menanyakan mainan Damian, menceritakan tentang anak putrinya. Mengucapkan selamat jalan.
 
Kami check in setelah Iyus kembali. Membayar kelebihan bagasi, menenangkan Damian yang mulai bosan dan lapar. Melewati security gate. Siap di gate yang dituju. Gerbang 'point of no return'. Duduk. Beli kopi dan snack. Meniup kopi dalam genggaman tangan. Meresap hangatnya. Damian tenang dengan makanannya.
 
Tiba-tiba kelegaan melesak dari dada. Mendadak bergelora. Excited. Membayangkan yang akan terjadi. Merancang yang diperbuat pertama kali. Wondering. Bermimpi. Semuanya sudah di belakang. Enam tahun.
Saat kaki melangkah masuk pesawat, bab baru itu dimulai.

Saturday, February 20, 2010

A Story of The First Love Song

Love did not exist. That was what the first couple on earth should live with. No Love. They worked side by side like machines, lived together like animals did, they only spoke in sign language, they did not pray nor sing. As to pray they need one to love, and song can only be sung with loving heart.

One day the fruit of wisdom opened their eyes, ears, and heart. It was like a whistling wind, a dripping sound of waterfall, crackling firewoods, whispering bamboo leaves, a sound of heartbeat. It's every sound all in one. 

It was Love.  

They fell in love with Love. They felt the joy and sadness at the same time. The jumping up and down, the turning around. Then they started to hum. They were imitating the whistling wind, dripping sound like waterfall, clacking their tongue, hissing their teeth, and so on. They even tried to beat things to get its noise, to hear each sound of everything. Tried hard to explain the feeling they felt, to let go the soar in their heart. They started to talk to each other with sounds. 

Then they started to sing. As only through singing can they express their feelings. But still they could not sing Love. There was no exact sound to match it; no perfect song could describe it. Not a thing can make a sound of it, not even all sounds altogether. The joy and sadness all in one in their heart. 

They almost gave up love, did not want to sing anymore. They got angry and started to sing together. That was when they made love for the very first time. They felt love all over again, made the best love song ever. After awhile though, not even that special song can they call Love. They regretted and almost hated the fruit of wisdom, as the pain in their heart grew stronger with love. But they just could not hate it, as Love is more powerful. And because of love they forgot that they grew old. They started to have kids and got busy with the little joys. Then they forgot to sing. 

The kids were born from Love and they liked to sing all the time. They even did better by dancing with it. Singing and dancing by the river, through the woods, over the grassfield, with birds and butterflies. The old couple hardly sings anymore, but they told their kids to keep singing. To compose the best love song they ever could in life.

To James and Mer (who keep encouraging me to write :))

May you sing the best love song ever,

Tuesday, September 15, 2009

Si Mbah

Mbah putri berpulang. 
 
Kakak tertua saya menelepon dari Jakarta. Sejak Bapak tiada, saya jadi was-was setiap menerima telepon dari Jakarta, diluar hari ulang tahun kami. Terutama telepon di jam yang aneh. Saya takut berita buruk. 
 
Kenyataannya, Mbah memang sudah sepuh, usia delapanpuluhan . Sewaktu pulang ke Jakarta bulan Juli lalu, ia hanya tiduran saja, atau duduk di kursi roda. Mungkin malah kepulangannya membebaskan Mbah dari sakit tuanya. Saya percaya Tuhan memberi yang terbaik. Semoga Mbah damai disisiNya. Amin… 
 
Tetapi kematian selalu menyisakan isak. Setiap bulirnya menetes kenangan akan sosok yang pernah dekat. Kekaguman pada perawakannya yang tinggi langsing. Kebanggaan pada kekuatannya membesarkan tiga anak seorang diri. Salut pada pribadinya yang terbuka. Keinginan menyamai tekunnya bekerja, dan keteguhan untuk percaya. 
 
Terutama kenangan akan kesetiaannya.... pada anak, menantu, cucu, dan setia pada YME. Melebihi orang-orang lain yang pernah saya kenal. 
 
Katanya, orang yang meninggal di usia muda adalah orang baik. Good men die young. Tuhan memanggil di usia muda, menjauhi kesusahan hidup di hari tua. Tapi saya percaya orang yang hidup hingga usia sangat lanjut juga disayang Tuhan. Karena dipilih oleh Nya untuk menjaga yang masih hidup. Memberi kesejukan dan perlindungan buat orang lain. Seperti Mbah Putri.

Sungkem saya dari jauh, Mbah....

Monday, March 09, 2009

Serak

Sepertinya baru sebentar. Tapi serasa sudah lama. Terlalu lama. Seperti ada yang menggantung di dada. Sesak. Pertanda kejenuhankah. Atau keinginan tak terjamah. Ataukah hanya lelah.

Dimana kata hanya tergantung di lidah. Pikiran tertambat di pusar kepala. Hati terserak. Lalu kaki memimpin langkah. Karena cuma kaki yang tahu kemana pergi. Keharusan menuju. Menyelesaikan tugas, rutinitas.

Aku rindu hatiku. Yang hangat. Yang bersenandung kecil. Langkah ringan. Sapaan ramah. Kemana hatiku. Yang mampir menghirup angin. Tidak bergegas soal sepele dunia kecil. Serapah tak penting.

Mungkin ia terserak. Sepanjang perjalanan waktu. Yang sepertinya baru sebentar. Tapi terasa lama. Kalau kupunguti serakannya, mungkin masih bisa jadi satu. Pelan-pelan. Entah kapan.