Showing posts with label episode. Show all posts
Showing posts with label episode. Show all posts

Tuesday, April 29, 2014

Tips untuk Pelari Pemula

So... I did my first 5K Run Race last Sunday. It felt awesome. Especially I did it when I already turned 40, after my second child is 2,5 yo.
But as it's already been said, it's never too late to start. And in this case it's never too late to finish a race.

Sekedar berbagi, ada beberapa tips yang ingin saya sampaikan sebagai pelari pemula. Tips ini mungkin sudah banyak dibahas di website lain, tapi ini sesuai dengan pengalaman pribadi saya.

Gunakan sepatu yang sesuai untuk lari, dan baju yang sesuai untuk olahraga lari.
Sepatu ternyata sangat penting karena dengan berlari, pada saat kaki memijak tanah kaki kita menopang 5 kali berat tubuh. Sepatu yang tepat membantu support kaki dalam menghindari cedera. Baju yang sesuai untuk lari juga penting karena tubuh akan berkeringat cukup banyak, jadi dibutuhkan baju yang ringan dan cepat kering. Hindari bahan katun karena akan menyerap keringat dan baju menjadi basah. Bisa-bisa setelah lari malah masuk angin.
 
Lakukan pemanasan sebelum lari dan peregangan setelah lari. Gunakan teknik berlari dan bernapas yang benar.
Ini sangat berpengaruh terhadap endurance selama berlari dan menghindari cedera akibat teknik yang tidak tepat. Biasanya cedera pelari di bagian pergelangan kaki dan lutut. Silakan mencari di youtube untuk langsung mengikuti teknik pemanasan, peregangan, dan berlari yang baik. Lebih baik mencari dalam bahasa Inggris karena biasanya lebih informatif secara visual, kita tinggal mengikuti gerakannya.
 
Jangan terlalu berambisi jika baru saja mulai latihan lari.
Saya sendiri suka olahraga dari dulu tetapi sangat tidak konsisten karena kesibukan sehari-hari. Saya baru mulai rutin latihan 6 minggu sebelum race. Tidak perlu langsung berlari cepat dalam waktu selama mungkin. Cukup berlari 2 menit dan jalan 1 menit secara berulang selama setengah jam, hingga 8 menit lari 2 menit jalan dilakukan 3 kali selama 30 menit. Kalau sudah nyaman bisa berlari 14 menit dan jalan 1 menit di minggu ke 4. Yang penting adalah konsistensi dan 'listen to your body'. Latihan perlu rutinitas minimal seminggu 2 kali. Menurut saya paling baik minimal seminggu 3 kali supaya terasa kemajuannya. Awalnya saya juga tidak terlalu memperhitungkan pace berlari. Tapi lama-kelamaan, berlari bikin saya ketagihan, sehingga jarak dan pace bisa naik dengan sendirinya.
 
Gunakan aplikasi smartphone jika memungkinkan
Selain lebih terukur, ada program coach di nike+ misalnya, yang membantu mencapai goal tertentu. Jika suka bisa sambil bersosialisasi juga. Selain itu mendengarkan playlist sangat membantu saya bersemangat lari. Jangan lupa dibantu dengan tempat penyimpanan smartphone selama berlari misalnya menggunakan armband atau spibelt.
 
Untuk para wanita: gunakan sport-bra
Tujuan yang terpenting selain menopang adalah menghindari luka gesekan selama berlari. Wired-bra is a big no-no. Enough said.
 
Ada waktu istirahat (rest day) dan cross-training
Tubuh tentu saja perlu istirahat, dan cross-training perlu untuk memperkuat bagian tubuh yang kurang terpakai saat berlari, selain menghindari kebosanan.
Saya sendiri cukup mencari video Zumba dan berlatih di rumah.


Do it for Fun
Last but not least, keep it fun and simple. I am not aiming to be an athlete. Being healthy and having fun doing it is good enough. Oh and for BONUS you'll lost a few centimeters on your waist and hips and thighs. How 'bout that ladies :)


That's why I like running, I can just grab my shoes and out the door within minutes and start moving. No traffic nor special gears. Just you. Just do it.

Sunday, April 29, 2007

Batik, dan Kelepon

Alkisah, seorang permaisuri dari raja Mangkunegaran seringkali ditinggalkan sang raja yang memiliki banyak selir. Ia merasa sangat kesepian dan diabaikan. Untuk membunuh waktu termangu, sang permaisuri mulai membatik. Mengambil motif bintang yang bertebaran di langit dari balik jendela istana, melukisi malam sendirian. Sekali waktu sang raja melihat karya sang permaisuri, dan menanyakan apa yang sedang dilukisnya. Taburan bintang di langit gelap, lambang kesepian menggayuti malam. Raja terenyuh. Lalu ia kembali ke istana dan meninggalkan selir-selirnya. Batik itu menyatukan lagi sang raja dan permaisuri. Motifnya dikenal sebagai batik truntum.

Cerita ini disampaikan padaku oleh kakakku, saat aku mulai belajar dasar membatik. Di luar perdebatan panjang tentang kepasrahan seorang istri yang ditinggalkan suaminya yang berselir banyak, dalam satu hal kami sepakat. Batik itu indah. Dan nggak gampang. Makanya adalah suatu seni tersendiri saat putri-putri jaman dulu bisa membuat batik tulis bermeter-meter dengan desain yang harus dicipatakan sendiri.

Aku sendiri beberapa kali terkena lelehan lilin panas, kesal karena tetesan lilin menodai kain, bahkan lengan tersenggol wajan. Butuh kesabaran dan konsistensi disamping kreasi. Beberapa potong kain aku habiskan sebelum satu lembar syal bisa kubatik bergambar bunga, kupu, capung dan kepik. Walau saat proses penyelupan warna terjadi kesalahan hingga hasilnya tidak sempurna, cukup puas rasanya bisa mulai belajar sesuatu, karya seni negeri sendiri. Apalagi langsung diklaim Damian sebagai miliknya. Karena warnanya biru muda.

***

"Pep, gue lagi pengen kelepon nih...."
"Apaan sih kayak orang ngidam aja, dari kemaren..."
"Abis dari kemaren belom ketemu keleponnya."
"Kan udah makan jajan pasar yang laen, ntar ajalah. Makanya bangun pagi-pagi ke pasar."
"Yaaa, tau sendiri gue bangunnya siang. Udah jauh-jauh masak nggak makan kelepon Pep...." liurku mulai menetes di ujung bibir, membayangkan lelehan gula merah yang mencelos dari bulatan hijau bertabur kelapa. Hmmm....

Aku uring-uringan.

Sampai pagi itu, saat aku ditinggal sendirian di rumah.
"Happy Birthdaaayyyy....!"
"Waaa... Makasihhh, apaan niy....?"
"Ini kelepon.... 33 biji, sesuai umur lo, awas nggak abisss!"
Aku membuka bungkusan daun kelapa, melihat bongkahan bola-bola hijau bertabur kelapa. Persis seperti yang kuidamkan. 33 biji. Hah....
"Bener nih nggak ada yang mau?" tawarku basa-basi.
Lalu kucomot bola itu. Satu-satu...

Jogjakarta, sometimes in February

Friday, October 27, 2006

A Present

Ia menyorongkan sepotong kertas ke hadapanku. Gambarnya tidak besar, dibandingkan ukuran kertas yang A3. Aku menatapnya sambil senyum, seperti selalu. Saat kulihat gambar itu, aku nyaris tidak mengerti. Tampak sebuah kotak hampir bujur sangkar sempurna. Kotak itu dicoret-coret dengan pen hitam hingga hampir tertutup seluruh permukaannya. Lalu seperti ada bow, rangkaian pita di atasnya.  
 
"Ayo buka, Ma. It's a surprise for you." "Wow, terimakasih sayang. Bagus sekali present-nya?" Wajahku berbinar, sekaligus menahan tawa. "Ayo buka, c'mon..." Lalu aku berpura-pura membuka ikatan pita di atas gambar kotak itu, memasang wajah surprise dan gembira, "Hey, I like it a lot. You did a great job.... apa ini..?" Masih berusaha memancing apa isi hadiah darinya.  
 
"It's a heart, Mama. It's for you." Aku terkejut. Dan terenyuh. Sempat terdiam dan mengamati coretan gambar di kertas itu. Ia benar. Ia menggambar sebentuk hati, membingkainya dengan kotak. Dan mencore-coret kotak itu supaya isinya tidak terlihat. Lalu diberi gumpalan pita di atasnya. Ah ya, aku lihat sebentuk hati itu. Buatku.  
 
"I love you too, Damian...."

Wednesday, May 24, 2006

Dance With My Father

I've never heard this song my whole life. And when I drove home, this song just came out of the blue at wsmj, by Luther Vandross. I'm being selfish, but this morning, I know this song is for me...  

Back when I was a child 

Before life removed all the innocence 

My father would lift me high 

And dance with my mother and me and then 

Spin me around till I fell asleep 

Then up the stairs he would carry me 

And I knew for sure I was loved 

If I could get another chance 

Another walk, another dance with him 

I’d play a song that would never, ever end 

How I’d love, love, love to dance with my father again 

When I and my mother would disagree 

To get my way I would run from her to him 

He’d make me laugh just to comfort me, yeah, yeah 

Then finally make me do just what my mama said 

Later that night when I was asleep 

He left a dollar under my sheet 

Never dreamed that he Would be gone from me 

If I could steal one final glance 

One final step, one final dance with him 

I’d play a song that would never, ever end 

‘Cause I’d love, love, love to dance with my father again ...... 

 lyrics taken from here

Monday, May 22, 2006

Buat Bapak

Bapak, 
Tulisan tentang Rendeng masih ada di halaman ini. 
 
Tentang memori masa kanak. Secuil tentang Bapak. Tulisan itu masih ada Pak, belum sempat saya kirimkan (karena Bapak tidak lancar dengan komputer, dan dulu saya tidak sabaran mengajarkan). 
 
Dan sekarang Bapak sudah menyusul Mbah Putri. 
 
Maaf saya di posting lalu masih terpeta, dan sekarang saya sudah harus mengucapkannya lagi. Beribu maaf saya Bapak, tidak bisa ada di sana. Kali ini buat melepas kepergian Bapak. Dan maaf buat kesalahan saya yang lain, yang terlalu banyak. Semoga Bapak damai disisi-Nya. Amin. 
 
And though I didn't say it much then, I want to scream it out loud now. I love you.

Tuesday, February 14, 2006

Make Over


***Sebelum*** ***Sesudah***

Sunday, January 29, 2006

Winter Break etc.

Yup... malam ini winter break sudah selesai. Berakhirlah acara bersantai di rumah, membaca hingga dini (benar Noy, The Curious Incident of the Dog in the Night-Time by Mark Haddon memang menarik dan berbeda) , browsing hingga bosan, mengunjungi dan dikunjungi kawan, mencoba resep baru, berjalan-jalan di udara dingin bersama Damian, menemaninya bermain menghabiskan hari. Sungguh, saya menikmati. Dan seperti masa kecil saat enggan sekolah setelah liburan, sekarang pun demikian. Tetapi di lain pihak juga bersemangat, karena perubahan seringkali menyenangkan.

Salah satu yang bisa saya bagikan di sini: resep. Seorang tetangga yang baik asal Brazil beberapa kali mengantar makanan ke rumah (dan sebaliknya, tentu saja). Memanjakan saya dengan makanan buatannya yang baru di lidah saya, dan menuliskan resepnya.
Torta de Queijo e Cebola (Cheese and Onion Pie), Torta de Milho (Corn Pie), Manjar Branco (Coconut Pudding) dan Chocolate Coconut Cake yang-entah-apa-namanya-tapi-uenak-sekali. Semuanya homemade cooking style, mudah dibuat dan mhhmm... yummy! Kali ini - sorry - tanpa gambar... karena keburu lenyap di perut saya sebelum sempat diabadikan, hehehe. Thanks, Cris.

Torta de Milho (Corn Pie)
Ingredients:
1 can condensed milk
1 can whole grain corn (no salt)
2 Tbsp. butter or margarine
5 eggs
1 Tbsp. baking power
Instructions:
Liquidize all the ingredients and place in a small recipient previously sprayed with butter or margarine. Bake about 45 min/ 450 F.

Wednesday, January 11, 2006

Virus

yeah...begini nih rasanya mau kesel nggak bisa seperti menahan kentut di ruang tunggu yang sempit. udah tiga hari tumbang ga pake babibu tau-tau lemes seluruh badan sakit kepala menggigil gelisah mual dengan umbel beleleran... yaiks... mual? iya, jangan mikir macem-macem, mungkin ini gara-gara flu jahanam itu atau juga karena perubahan hormon akibat the patch yang ternyata efek sampingnya jadi nggak ketahuan akibat bersamaan dengan efek flu yang mana bikin gue jadi pingin misuh-misuh. suhhh.... manalagi gue doyan makan tapi jadi terhambat karena setelah makan mualnya makin kerasa, manalagi ga bisa ngajak main Damian yang lagi liburan sama emaknya yang ternyata cuma bisa merem melek dan menolak diciumi takut nularin virus. sigh.... memang sakit itu nggak enak, jendral. apakah sakit itu adalah sehat yang dihambur-hamburkan? entahlah, mungkin. yang pasti sekarang sumbu gue lagi dua kali lebih pendek sementara butuh tidur dua kali lebih banyak.... hahaha dan jangan melotot gitu dong bacanya, bolehlah sekali-sekali blog ini diisi cacimaki.... peace....

Wednesday, December 21, 2005

Sendirian

Sendirian. Ia termangu. Hari itu mendadak libur. Sementara putranya sudah sign-up untuk satu minggu penuh di sekolah. Suaminya masuk kantor. Ia termangu. Sendirian.

Rasanya aneh, ada yang kurang. Celoteh dan dendang ramai anak kecil tak terdengar. Setelah tiga tahun lebih, tiba-tiba ia di rumah. Sendirian. Aneh. Lho, bukankah itu yang biasanya ia inginkan? Ketenangan, waktu sendirian sehari penuh? Ia termangu. Ternyata tidak juga. Ternyata ia sudah terbiasa. Dengan celoteh dan percakapan. Dengan dendang nyaring terkadang sumbang. Dengan hari yang terencana. Ia menunggu sore. Tapi sia-sia.

Ia adalah saya.

Lalu saya buka pintu kulkas, mencari-cari bahan yang bisa diolah jadi hidangan. Surfing resep. Ingin coba sesuatu yang baru. Ah, kayaknya yang itu bisa. Lady finger diganti vanilla cookie. Setelah browsing ternyata mascarpone bisa diganti cream cheese. Kahlua diganti rum. Yang lebih penting nggak usah dipanggang pakai oven. Sip. Lalu saya sibuk sendiri. Ngotorin dapur.

Dan voila, jadilah sepinggan tiramisu. Ala saya tentunya. Rasanya lebih mirip cheesecake. Ah, jadi ingat teman saya yang suka banget cheesecake (Umi, apa kabar?).

Beberapa hari kemudian, saya sendiri lagi. Tapi sekarang lebih terencana. Saya sudah daftar untuk volunteer di House of Ruth Tempat ini menampung wanita dan anak-anak terlantar. Kebetulan dibutuhkan khusus untuk holiday season, membantu sorting gifts yang masuk. Lagipula, sudah agak lama saya berencana volunteer buat holiday ini, terinspirasi dari Mer waktu Natal tahun lalu. Mencoba membelok spirit of shopping jadi spirit of giving. Paling nggak, giving time yang saya punya.

Setelah bertemu koordinator volunteer, saya ditempatkan di ruang mainan anak-anak. Ruangan itu dipenuhi toys anak-anak segala rupa. Bertumpuk-tumpuk, berserakan, sampai saya membelalakan mata. Ruang ini surga buat anak-anak! Semuanya toys baru, sumbangan dari orang-orang yang baik hati. Dari beberapa label yang saya baca, kebanyakan toys ini disumbang secara personal dari anak-anak juga. Anak-anak yang lebih beruntung. Yang mau berbagi buat anak-anak lain yang kurang beruntung.

Lalu saya dan seorang lain mulai bekerja, membuka kantong-kantong. Melabel rak-rak berdasarkan jenis mainan, menyusunnya rapi-rapi. Termasuk buku, games, bahkan sepeda. Terkadang berhenti sesaat, memperhatikan mainan yang lucu, sambil berbagi tawa dengan yang lainnya. Sambil membayangkan, betapa senangnya anak kecil yang masuk ke sini, memilih mainan yang ia suka.

Saya sempat terharu. Tadi saya sempat melihat ruang tempat bermain anak-anak. Mereka yang sudah nggak punya orang tua atau yang orang tuanya nggak mampu menafkahi anaknya. Dan cuma setahun sekali mereka boleh merasakan mendapat mainan baru. Dan walaupun mereka mendapat mainan yang mereka suka, saya bisa mengira apa yang sebenarnya mereka inginkan. Berkumpul bersama keluarga.

Setelah menyelesaikan tugas, saya pulang ke rumah. Ternyata saya sangat tidak sendirian.

Friday, November 18, 2005

He loves....

He loves train so much he wants to be a choo-choo train when he grows up (are you sure you don't want to be the train driver? No, I want to be a choo-choo train).
He loves Andrea Bocelli so much he would sing 'Conte Partiro' in the car seat on our ride and refuse to hear other 'adult song'.
He loves to sing so much he could follow all the songs in disc 1 of 'Lagu Anak Indonesia'.

He hates dirt and trash so much he would move to hold my other hand when we passed a trash/dumpster.
But he loves falling leaves so much he would swim in it and ignore all dirts on it.

He loves order so much he would put things properly, otherwise he would let them completely in a mess.
He loved to play online games in computer so much now he doesn't want to play them anymore.
He loves to climb on a slide but hates to be put on a swing.
He loves bugs so much he would look for them when we go outside but refuse to touch them.
He loves to do things completely in a right way otherwise he would throw it away.
He loves puzzle so much that's the one thing he should do at the library.
He loves to read so much I have to read him all ten books we just borrow from the library at the same time.

He loves chocolate milk so much he never wanted a 'white' milk.
He loves coffee so much that it's his favorite ice cream flavor and he would secretly sip my coffee.
He is very picky in terms of food, he becomes our standard. Other than spicy-hot food, we agree that food he doesn't want to eat is awful.

He loves to play fighting so much his teacher had to make him sit down on a chair.
He loves Elmo so much he brings it to school and refuse to put it in his cubby, and always ask me to play Elmo's voice.
He loves to run chasing his friends at school that's the first thing he remembers when I ask him what he was doing at school today.
He loves bubble so much sometimes he just want to take a bath if I let him play with it in the bathroom.

He loves to say "Mama pretty" to calm me when I'm angry.
He loves to say "Pretty lady" (tante cantik) when he sees Victoria Secret ads on TV.
He said "Mrs Jackie, you're fired" when he saw Donald Trump said it in Apprentice. Btw, Mrs Jackie is his teacher and of course he just said that in front of me.
He would tease his dad when he was asked,"What's your name?" "My name is Earl..."
He would say "Film mama" when he saw Desperate Housewives begin to air, and he won't disturb me for the whole hour.

He's a bit shy with strangers but very loving to people who he knows well.
He loves babies so much he would try to make connection with them and ignore their parents.

He loves fishes so much he should see them everytime we go to Han Ah Reum (Asian supermarket).
He loves to shop himself he had to handed his things to cashier and pay all by himself.

He loves to run and jump and climb like any other boys, but he also loves pretending to fall like batman.
He loves to sing along with Barney "I love you, you love me..." and looking for me to give me a hug and a kiss.
He still loves to hold my nose that's the first thing he touch when he wakes up in the morning, and the last one when he's falling asleep.

He loves many things and hates several things, and this page can never fit them.... He's only 3 years 2 months 11 days, but he is just a complete personality....

Monday, October 10, 2005

Beautiful Stranger

Terkadang, kita berpapasan dengan seseorang tak dikenal, tapi berkesan. Tak dikenal maksudnya: bertemu di satu titik tempat dan satu titik waktu, berhubungan sesaat di titik itu, kemudian berlalu. Berkesan karena: walaupun kita sering bersinggungan dengan banyak orang tak dikenal, hanya satu dua yang membekas dan diingat.

Seperti pertemuan saya dengan Tina.

Ia single mother, putrinya berumur 15, walaupun Tina sendiri tampak masih muda. Ia wanita african-american yang menurut saya luar biasa. Pindah dari California ke Washington DC, ia bekerja di tiga tempat. Bekerja di Hecht's jika dibutuhkan (on-call), I need more discounts for christmas. Tempat kerja satunya di kantor pemerintah yang mengurus perumahan (saya lupa namanya), that's how I know a good place to stay with a good price. Dan di sebuah condominium tempat ia menjadi receptionist, I work for really looong hours here, sometimes 8am to 10pm. Dan ia cuma punya hari libur setiap Senin, dua minggu sekali, when I have time to have a good long sleep....

Saya berjumpa dengannya di satu sore yang basah, menyapanya untuk menanyakan bus menuju station metro terdekat. Ia bertanya," memang tujuanmu sebenarnya ke mana?" "Union Station". "Well, that's quite far, but I'm going to have a break soon and I'm going to Connecticut Ave where I can drop you off." Tentu saja tak saya tolak tawarannya. Menunggu taksi akan memakan waktu lebih lama lagi pikir saya. Dan saat kami meluncur itulah ia banyak bercerita.

Menyambung pembicaraan tentang kesibukannya bekerja, saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Memang hidup di Washington DC tidak mudah, apalagi ia single mother. Tapi tanpa saya tanya ia sudah menuturkan alasannya. Putri tercinta. "I'm very proud of her. She can speak two foreign language, Spanish and French." Waktu anaknya kecil dan diasuh hispanic baby-sitter, Tina melarang anaknya menonton TV (it's a stupid waste-of-time box and I hate that purple Barney) dan cuma boleh diajak bicara in spanish. Berbahasa Inggris hanya jika sang putri bercakap dengan ibunya. Tumbuhlah ia dengan dua bahasa, plus les tambahan bahasa lainnya. And she plays music, too. Putrinya-lah tempat ia menambat mimpi. Mimpi-mimpi yang tak sempat disinggahi dalam kesibukannya sendiri. Tak lupa saya ceritakan tentang diri saya, perjalanan ke DC, dan putra tercinta (Are you married? Yes. Tapi saya tak banyak cerita soal suami karena enggan menyinggung dirinya).

Ia menyelingi dengan menunjukkan barang belanjaanya untuk putri tercinta, plus untuk dirinya sendiri (I bought this Armani perfume just because I love the free handbag, can you believe that...?) Saya menyungging senyum," Hey, what woman who doesn't like shopping...?" Pembicaraan kami akhirnya terputus (...I'm gonna drive my father to NC with his new truck which I bought for him....), karena saya sudah sampai di metro station. "Thank you so much Tina, you really save my day...." Dengan keingintahuan yang sudah terjawab "I know you are a good person, so I'm glad I can be of any help."

Well, I know you're a good person too, Tina. Giving a ride to a complete stranger.... whom you know for only a half hour.

Tuesday, September 27, 2005

Suara Itu

Suara itu selalu datang dari sebelah kiri. Di atas pundak, di belakang telinga. Dengan posisi itu aku tak pernah mampu menatapnya. Atau lebih tepat, aku tak punya keberanian untuk memeta wajahnya. Dengar suaranya saja aku selalu tunduk. Karena ia selalu datang saat aku gentar.

Seperti empat minggu lalu. Suaranya sayup menerpa tanpa pertanda.

"Kamu alpa?"
"Ya... lagi-lagi" Suaraku lirih, mataku menerawang kancing baju.
"Tapi kali ini, aku nggak akan menghindar. Atau cari-cari alasan," tambahku, dalam bisikan yang hanya mampu sampai di telinganya. Kami terdiam sekian detik, dengan hatiku yang berdebar gentar.
"Kenapa...?"
"Karena aku abaikan semua pertandamu yang lirih. Aku sepelekan suara sekitar yang peduli..."
Ia tak bersuara, tapi aku rasakan tajam tatapnya di kudukku.
"Kenapa...?"
"Karena aku tak mendengarmu sebelum kamu bersuara...."
Kali ini kurasakan tatapnya melunak, tapi desahnya menggemakan sedih.
"Kamu tahu...."
"Ya, aku tahu. Kamu tak akan menamparku kalau saja aku sadar, siuman."
Tanpa ia tumpah ucap pun aku serasa mengerut menjadi cacing. Kalau saja aku mampu menyusup ke tanah....

Aku rasakan hembusnya yang beranjak pergi. Aku tergeragap.
"Tolong... jangan pergi."
"Aku perlu ditemani...." mohonku nyaris meratap.
"Aku tidak akan memberi beban yang melebihi berat tubuhmu. Sudah saatnya kamu menatap silau matahari yang kaunikmati sinarnya, walau untuk sesaat kamu harus buta...."
"Bukan itu.... ada yang ingin kutanya."
Suaranya tak lagi menjauh, kurasakan lagi hembusnya di belakang telinga,"Apa yang ingin kamu ungkap?"
"Aku... sudah berhitung. Kali ini, mungkin yang kedua."
Suaraku bertambah berat," Bukankan segalanya diakhiri hitungan ketiga?"

Kali ini hening terasa menembus dinding. Aku makin tunduk, menghitungi detik.
"Mungkin... semuanya akan diakhiri hitungan ketiga. Atau diawali pada hitungan ketiga."
"Aku... takut..." Akhirnya aku mengakui ciut hatiku, tanpa topeng.
Dan dengan desahnya yang serupa senyuman, kudengar ia beranjak pergi.

Kali ini aku menoleh, mencarinya di sebelah kiri belakang telingaku. Tentu saja ia sudah lenyap, secepat datangnya yang tak diundang.
Tiba-tiba, rasa takut itu lenyap. Hatiku kosong seperti dihirup sedotan. Dan mataku basah.

Friday, July 15, 2005

Fireworks

Damian menengadah ke langit-langit.
"Di mana?" Tanyaku.
"Tu... di sana...." Telunjuknya menunjuk satu titik di langit-langit ruangan, enam puluh derajat dari horisontal.
"Oh iya... itu dia," ucapku gembira, terbawa antusiasnya.
Damian tersenyum dan matanya mengerjap-ngerjap cepat.
"Memangnya Damian lihat apa...?" pancingku melirik, ingin tahu, sekaligus tak ingin salah menebak.
Matanya mengerjap-ngerjap cepat tak henti, telunjuknya menunjuk langit-langit.
"Itu... fireworks, ma...." Sekarang suaranya menimpali dengan bunyi,"Dum... dum... dum...."


Ah ya.... aku ikut menengadah lagi, mengerjapkan mata cepat... Itu dia fireworks-nya! Kami menikmati kerlip itu bersama, di dalam ruang ditimpali rintik gerimis. Tersenyum sambil mengerjapkan mata....

I'm amazed how he's just so full of imagination.

(Posting ini juga buat Tante Neenoy yang pingin lihat fireworks.... dari Damian)

Saturday, June 11, 2005

Today

Sekarang weekend. Jam 12.30am. Enggak, aku nggak imsonia. Lagi menikmati secangkir coklat, dan baru menyelesaikan setangkup roti. Ya, tadi aku melewatkan makan malam. Dan sekarang, tiba-tiba aku memiliki waktu sebentar, buat menikmati hening. Let's see... hari ini (ah, sudah kemarin ternyata) agak melelahkan. Aku tidur-bangun karena Damian juga begitu. Lagi sakit dia, beberapa hari ini badannya panas. Akhirnya pagi-pagi aku telepon dokter bikin janji, hari ini juga, jam satu siang.

Lalu aku menelepon tempat kerja, minta ijin nggak masuk. Aku beruntung sekali bisa part-time di tempat yang waktunya cukup fleksibel begini, padahal baru tiga hari yang lalu minta ijin off. Setelah itu aku coba telepon seorang artis yang punya art gallery di downtown. Kami berjumpa di craft fair seminggu lalu, dan wanita asal Iran ini menawarkan untuk consignment jewelry yang kubuat di gallery-nya. Aku cuma bisa meninggalkan pesan di answering machine, i had no idea what her gallery hours is. Btw, aku cukup senang dengan hasil show minggu lalu. Senang hasil karyaku diapresiasi, dan jadi tahu apa yang disukai pembeli. Aku sempat berkenalan dengan pemilik tenda sebelah, yang menjual art & craft asal Peru. Jadi kepikiran, art & craft Indonesia nggak kalah dan lebih bagus dimataku, gimana ya caranya supaya bisa dipasarkan di sini. Hmm... catatan yang satu ini bakal kusimpan dulu di laci, sambil cari info lagi.

Sepagian Damian tidur lagi, enggan makan. Sedih melihat anak yang biasanya berloncatan dan banyak tanya ini cuma berbaring saja, yang biasanya mau makan apa saja menolak ditawari makanan enak. Setelah kubawa ke dokter, diagnosanya nggak mengkuatirkan. "He's suppose to be alright in a couple of days". Ya, aku berdoa semoga begitu adanya, can't wait 'till Sunday when it happens... Setelah beli obat, sampai rumah aku bujuk Damian makan sup, dan ia segera tertidur lagi setelah minum obat. Setelah makan siangku yang terlambat dan istirahat sebentar, Damian bangun lagi dan menolak diajak bermain. Tak lama bersiap kami berangkat menjemput my hubby, dan menuju pertokoan, membeli hadiah perkawinan seorang teman besok, dan hadiah lainnya. Aku ingin segera sampai rumah karena ingin Damian cepat istirahat lagi, dan ternyata sudah jam sembilan malam setiba di rumah, ditambah ada sedikit masalah dengan jendela mobil. Hmphh... Lalu Damian kumandikan, makan lagi sedikit, minum obat, dan baru tertidur lagi jam sebelas lebih.

Dan sekarang, here I am. At 1am. Penasaran melihat postingku setahun lalu. Lagi apa aku setahun lalu, di waktu yang sama? Ah, ternyata waktu itu komputer crash. Tepat setelah kami balik dari NY. Dan baru dua minggu lalu kami kembali lagi ke New York, one of my favorite cities I've known. Dan sekarang aku sudah kehilangan kata-kata buat menceritakannya, dan perasaanku masih sama seperti setahun lalu kami ke sana. Soal ini aku nggak bisa terapkan kata-kata bijak Edna," I don't look back, Darling... It distracted from the now...." Because sometimes, I do looking back, and enjoy it. Soal tokoh film yang satu ini, aku suka karakternya yang menonjol walau cuma muncul sebentar. Ia bukan tokoh utama, tetapi ia ada dan membekas... Ahh aku jadi melantur, mungkin sebaiknya aku tidur....


This posting is also dedicated to my dear sisters, whom I miss so much sometimes but didn't have a chance to talk as much as we used to.... and chat about every little details of our lives.

Tuesday, May 24, 2005

Journey

Congratulations, my dear hubby. Despite everything you've been through, you've done it all. Yourself.

And it was yesterday that I waved my hand happily, norakly, to people outside. "Hey... it's mine... it's ours... it's mine...!" Yup. My hubby. My son. Our ride. Yayy....

Monday, April 04, 2005

Anak Tangga

Tiga minggu belakangan aku magang di sini. Suatu kesempatan yang menyenangkan menebas rutinitas. Seperti halnya orang yang sudah lama tak naik sepeda dan kemudian mulai mengayuh lagi, aku mengalami hal yang sama. Sedikit grogi pada awalnya dan tiba-tiba semuanya berjalan mulus. Ah ya, tentu saja dengan tambahan polesan oli di sana-sini.

Anyway, tiba-tiba saja yang menjadi hal besar bukanlah soal apa yang kulakukan. Tapi menebas rutinitas seorang anak berusia dua setengah tahun yang nggak pernah terpisah dari ibunya. Aku telusuri semua artikel mengenai separation anxiety, dan kesimpulanku proses ini terjadi di berbagai anak tangga seorang bayi hingga menjadi bocah kecil. Sama saat ia lepas dari air susu ibunya dan ia menangis dua malam tak henti. Sama saat ditinggal pertama kali dengan eyangnya padahal selama dua jam saja. Belum lagi aku sendiri sama sekali nggak boleh ikut terbawa kesedihannya.

Baru setelah seminggu lebih kelihatan ia bisa menikmati kegiatannya di daycare sekaligus playgroup tempatnya bermain dan belajar. Dan aku kedapatan bonusnya setiap kami berangkat tidur malam. Damian mulai menyanyikan lagu-lagu favorit yang dipelajarinya. Twinkle Star, Bus, Friends, A-B-C, Spider, Baba Black Sheep, disela Balonku, Cecak, dll. Tapi di antara semua, ada satu lagu favoritku. Satu tembang Jawa yang sering kunyanyikan sejak dulu menjelang tidurnya, dan sekarang dinyanyikannya untukku dengan segala kelucuannya.

Bo-Bobo Damian sayang
isih cilik ta' kudang-kudang
ta' beri nastiti suci
'yen gedhe keno ta' sawang

lungo'no kandaku iki
dadio satrio utomo
ra' lio pengarepanku
wasis ing sembarang karyo...

Dan sekarang saat magangku selesai, aku akan menciuminya lagi semau hati. Suatu saat dulu, hitungan ciumanku berhenti di angka 59, padahal ia belum lagi tidur siang. Sekarang aku mau bayar hutang dulu... sampai puass... :)

Belasungkawa

Turut berduka atas wafatnya Pope John Paul II. Salah satu pemimpin dunia yang kematiannya dirundungi banyak negara, seseorang yang cinta damai, bahkan mendoakan orang yang mencoba membunuhnya.

Percikan seorang pemimimpin yang terlahir Karol Wojtyla di sini.

Tuesday, February 15, 2005

African Violet


Seorang kawan yang baik memberikan bunga yang indah buat saya. African Violet, atau Saintpaulia, bunganya kecil berwarna ungu berdaun hijau tua. Menilik sejarahnya, tahun 1892 tanaman ini ditemukan oleh Baron Walter von Saint Paul di Pegunungan Usambara, Tanzania. Lalu ia mengirimkan benih tanaman ini untuk ayahnya di Germany, yang kemudian dibiakkan di Royal Botanical Gardens di Hanover. Nama Saintpaulia dipakai untuk menghormati penemunya: keluarga Saint Paul. Kenapa ada nama African-nya saya sendiri belum tahu.

Di Amerika tanaman ini diimpor dari Germany dan England di tahun 1926 oleh Armacost and Royston di California, yang kemudian membiakkan tanaman ini menjadi sepuluh jenis hybrid. Sejak saat itu African Violet berkembang menjadi tanaman rumah yang terkenal di dunia dan terpopuler di Amerika.

Waktu anak kawan saya ini meletakkan pot di ambang jendela, saya cuma terpana. Wah, tanamannya indah, tetapi saya merasa sama sekali tidak bertangan dingin buat merawat mahluk hidup yang tergolong hewan dan tumbuhan. Kalau nanti mati bagaimana? Lalu kawan saya yang american ini mulai menjelaskan,"...dipeliharanya gampang kok, tinggal disiram tiap hari tapi jangan terlalu basah dan daunnya nggak boleh kena air. Lalu harus kena cahaya tapi nggak boleh kena sinar matahari langsung...". Nah lho... tanaman apa yang nggak boleh basah dan nggak boleh kena matahari? Lalu ia menambahkan," This is the easiest home plant to take care of...." OMG...

Anyway, ada kejadian lucu saat kawan saya datang untuk makan siang saat itu. Soto ayam yang saya sajikan lengkap dengan aksesori kol, bawang, telor rebus dll. dituangnya dalam mangkok dengan kuah soto. Lalu di mangkok yang sama ternyata ia masukkan pula sambal goreng ati dan nasi! Saya terlambat memberi tahu, dan dia cuma tersenyum-senyum malu saat saya kasih tahu. Wah mungkin yang dia cari tahu adalah cara makan gado-gado, mudah-mudahan dia nggak kapok makan masakan Indonesia lagi...

Seminggu sejak hari itu, benar saja. African violet saya layu. Bunganya yang manis mengering redup jadi kehitaman. Mungkin karena udara terlalu dingin, mungkin terlalu banyak saya siram air, mungkin kurang sinar matahari karena musim ini matahari jarang muncul, mungkin memang saya nggak bakat pelihara tanaman.... dan seribu alasan lainnya saya putar di kepala, sambil sibuk memindahkan bunga itu dan mengeceknya tiga kali sehari. Dua hari kemudian saya pasrah, Saintpaulia tak lagi saya sirami. Setiap kali bertemu kawan saya, saya tak kuasa untuk bercerita soal ini.

Seminggu lalu tanaman itu saya sirami lagi. Saya pikir, toh daunnya masih ada dan segar. Paling tidak saya sudah mencoba memelihara tanaman ini. Dan tiga hari kemudian saya melompat-lompat diiringi Damian, pertanda saya sedang senang walau Damian nggak tahu apa yang terjadi. Horreee....bunga saya tumbuh lagi! Kelopaknya yang sederhana berwarna ungu dan bersari kuning itu tampak makin indah di mata saya....

Sometimes, you just have to let go but never give up hope.... !

Monday, January 10, 2005

Template Hadiah

Betul, ini template baru. Hadiah dari seorang kawan masa kuliah dan kos di Bandung dulu. Yang tak sampai setahun lalu terhubung lagi lewat blognya yang manis: Waterflow. Satu hal baru yang saya tangkap: ia seringkali disapa Bunda. Ya, siapa sangka kita yang dulunya mengisi waktu bercakap di kamar kos, mendengar kaset Alanis, sambil berbuat hal-hal lainnya ;p ... sekarang sudah jadi emak-emak!

Ia juga yang mendorong saya menulis di blog. Dari menulis lalu membuat saya terdorong untuk belajar membuat template baru (tentu saja, bukan memulai dari nol, toh sudah banyak template yang bagus). Hasilnya terlihat beberapa hari lalu, layout berwarna oranye yang duduk manis cenderung kaku, hehehe... Lalu kawan saya ini mengirim hasil karyanya yang katanya dibuat karena iseng. Nah lho... jadinya saya bilang aja, sering-seringlah iseng Noy... :)

Tadinya bernuansa hitam putih. Tapi saya rewel ingin punya background berwarna oranye. Entahlah, saya pencinta warna. Buat saya warna ada untuk dinikmati. Untuk dinikmati jadi harus dipakai. Jadilah diedit sedikit sana-sini. Dan voila... jadilah air putih di gelas itu menjadi fanta oranye yang segar... Hayo, tidakkah kamu jadi haus?

Buat saya hadiah ini sangat spesial karena dibuat sendiri, dengan menghabiskan sekian waktu dari 24 jam yang sedikit itu. Termakasih ya Noy...

Monday, December 27, 2004

Duka


Please Click here: Indonesia Help for Online information about resources, aid and donations for quake and tsunami victims in Aceh & North Sumatra (Indonesia), and here: Air Putih Media Peduli Bencana Gempa dan Tsunami.

Turut berdukacita... buat korban bencana tsunami di Indonesia dan negara Asia lainnya...
...sungguh, saya kehilangan kata-kata,
hanya mampu mendaras doa di bilik hati saja...
...sungguh, damai adalah suatu hadiah mega mewah
ia muncul tiba-tiba sekilat perginya...

(ah ya, kelak mungkin saya akan menulis pikiran panjang saya tentang ini...)