Friday, October 19, 2007

Kosong

"Aku merasa kosong" ujarnya, lamat. Tanpa binar semangat, pun tanpa semburat sendu. 
 
"Kenapa?" tanyaku tanpa mengharap jawab. Aku tahu, kali ini bukan penjelasan yang penting. Hanya rasa. "Mungkin kamu sudah moksa," gurauku menyunting senyumnya. "Sudah di atas awan, nggak ingin apa-apa lagi, nggak merasa apa-apa lagi...." Pikirku, tiadakah lagi yang penting buatnya? Mungkin, harapku, hanya saat ini.  
 
Senyumnya pudar, pandangnya kembali mengawang," Nggak tahu, kosong aja...." dan berlalu dari hadapku. Seribu kenapa menghujam benak. Tapi aku tahu, bukan penjelasan yang penting. Hanya rasa.  
 
Saat harap terhempas dan melayang, mengundang harap lain yang tak lagi mampu menggayut senyum. Saat uang tak lagi mampu menyogok keinginan, teronggok di celengan berselaput debu. Saat langkah tergesa mengejar jabat menjadi lambat, tak lebih cepat dari merangkak. Kerja jadi biasa, prestasi jadi klise, ambisi jadi memuakkan. Ucap jadi basi, senyum jadi tawar, tawa jadi hampa. Tak ada lagi kecewa, tak juga sesal. Kosong. 
 
Itukah kosongnya? Seperti gelas yang airnya habis diminum? Atau gelap yang merayapi malam, atau desis statik setelah lagu usai? Kosong tanpa pretensi.... Seperti kertas yang penuh tulisan dan kemudian dihapus. Seperti menutup cerita di sebuah buku, atau menelepon kekasih yang jauh. Ada, namun tak terjamah. Memenuhi pikiran, sekaligus memeras otak hingga kering. Kosong, tak positif, tak pula negatif. Titik nol.  
 
Hari ini ia tersenyum. Saat tulisanku belum usai, kosongnya sudah lalu. Sudah kuduga, kosong itu ada buat dia. Kosongnya adalah putihku. Saat rasaku tak berwarna, di satu masa.

Wednesday, August 22, 2007

Summer That Reads

Fiction reveals truths that reality obscures. ~Jessamyn West

Summer is almost over. The sun sets earlier, the clouds fly heavier, and the grass glistens from early morning raindrops. Somehow I love fall better, but now I already miss long-noon-sunshine when we can swim till late or driving with no hurry or play outside all day. It’s like life seems longer, time goes slower.

Anyway, apart from all of that -and summer vacations, beaches, barbecuing, day trips, and other ‘summer stuff’- there are books I want to write about. There were actually about four and a half fictions/literature I’d read in these 3 months.

First is
The Secret Life of Bees by Sue Monk Kidd, which had an interesting way of narrating the story of a young girl with problematical background, but I eventually became bored. It’s simply because I could not relate to the setting of the story, which I later learned from Amazon, actually took place at the time of ‘Southern Gothic’ in 1960s. Well, guess I got nothing much left to say on this one.

The second is an easy mindless read of a pop-novel
The Right Address by Carrie Karasyov and Jill Kargman. Along the way I always laughed almost vomit at these rich people of Park Avenue NY who got sooo much money almost-too-many that they have nothing else to do but gossiping, shopping, partying, social-climbing, and then some more gossiping. I know it’s always fun to imagine such lifestyle but there’s always a price on that: you might not be able to be just yourself. Too many masks to wear. After I finish I almost feel grateful being middle-class, although I must admit that these characters of women can be easily found in any classes of life. Uh-huh. Other than that, I think the writers purposely told the story in a chick-lit way that was shallow, mindless, and gossipy to create the exaggerating unsophisticated life of supposedly sophisticated people. There, don’t read it I’d say.

Then there is
The Brethren from John Grisham. I always read Grisham’s books that involve lawyer, court, judge, and clients, whatever. Always fun and easy. Always flip through the pages till finish, and he’s good at this plot of thriller, slowly reaching its climax with, unfortunately, more and more predictable ending. Not as good as his other books but I’m still amazed how I missed this not-so-new one. Oh, by the way, the character Aaron Lake reminds me of ex- New Jersey Governor Jim McGreevey who was actually a gay but getting married to achieve his political career. And from him I would know that there’s the term ‘gay-american’ which sounds like ‘asian-american’ or ‘hispanic-american’, like it’s some kind of new ethnic group in the US. Well, I’m way off the course now. Let’s move on.

The Conch Bearer by Chitra Banerjee Divakaruni already reminded me of LOTR from the start. Especially this 12 year-old Anand that resembles the character of hobbit who had to bring the conch from Calcutta to the Himalayas. I love the wisdom and exotic Indian setting, with Hindi culture and ethnic food that almost made me drooling. The story itself mostly a kid fantasy that would fit middle-high school reading. But the wisdom…. That part would leave me speechless since it’s so related even with adults. With people who have lived many more years than kids but still searching for the classic wisdom of honesty, loyalty, and compassion. Which one would be the most important for you?

There is one special sentence in this book that really intrigued me “… in order to gain something great, one must release his hold on something else equally beloved.” I always thought that everything you have had never taken away from you, it just changed its substance. Some kind like the law of conservation of energy: energy can not be created or destroyed; it can only be changed from one form to another. Which lead me to think that every person already had his/her talent, even fate, but sometimes it changes to something else unpredictable. Like when you work extra hours with extra money but then you had to change your car tires (yup, extra money=new tires), or even give up an office job to home job such as raising a kid, or not being a lawyer but being a teacher. How can you tell that one is better than the other, that they are not equal? (Oh… please don’t take out that calculator). Or have ever thought that the more money you have it doesn’t mean your bank account becomes fatter???

Okay, so my last book this summer is a splendid book:
House of Sand and Fog by Andre Dubus III, which actually not new at all even already was being filmed. The characters are strong: Massoud Amir Behrani, a former colonel in the Iranian military under the Shah who was fleeing to the US and try to reach the American dream, his submissive wife Nadi, and Kathy Nicolo, a lost soul right after she lost her house; even I can understand the troubled mind of Deputy Sheriff Lester Burdon. The way the story told also interesting, making me put myself as an ‘I’ in the character and try to understand his/her way of thinking.

The story itself is remarkable, original and tragic at the same time, really different from any other books I’ve read about immigrant in the US. By the second part of the book, which I thought I might have speculated the ending, I actually could not guess at all until I reach the last page. And I got that kind of ‘hollow in your heart’ feeling after I finished. It’s like you can not absorb the meaning of it all right away. You feel sad and angry and empty at the same time. And you turn the back cover in slow motion, try to save the whole story in your mind before the book is really closed. This one is a four star.

I wish summer would span a little bit more time until I get my waiting list book:
A Thousand Splendid Sun by Khaled Hosseini, which I really hope to get my five star. I fell in love with his first book which I had read nearly two years ago: Kite Runner and it actually will show up in a movie this fall. Well, I guess that’s why his second book becomes so popular I need ten more people to finish reading it before I can get it from the library. And so I start counting….

Monday, August 06, 2007

Why?

Entah sejak kapan Damian mulai menyebutkan satu kata itu. Why? Mungkin awalnya tidak kusadari, karena awalnya hanya menanyakan masalah 'sepele'. "Why do people eat, Ma?" "Biar tambah besar dan kuat," jawabku singkat. Dan ia manggut-manggut. Lalu,"Why do we pray, Ma?" "We should be thankful and ask for blessings." Habis ini ia akan menanyakan "What is blessings, Ma?" Kali ini aku mesti berpikir dulu sebelum menjawab. Itu masih biasa.

Kemudian setiap kali aku minta dia melakukan atau tidak melakukan sesuatu langsung disambarnya,"Why, Ma?" Ohhh, rasanya tidak habis-habisnya aku berucap menjelaskan panjang lebar hanya untuk menjawab satu kata itu. Setiap kali ia bertanya sebelum melakukan apa yang kuminta. Itu masih kuanggap biasa. Dan selalu bisa dijelaskan alasannya.

Film pertama Damian di bioskop, Spiderman 3. Seru, banyak action, dan Damian antusias menyaksikannya. Yang lebih seru lagi,setiap ada adegan yang tidak dimengerti ia akan bertanya,"Why Spiderman turned black,Ma?" "Why the Sandman jadi bad guy,Ma?" "Why Harry jadi goodfriend lagi, Ma?" Dengan suaranya yang nyaring. Di dalam bioskop. Dan aku sibuk menjawab berbisik-bisik. Oh well, untunglah film anak-anak. Banyak anak-anak, dan nggak terlalu penting buatku mengikuti setiap adegan.

Belakangan, variasi dan bobotnya bertambah. Seringkali aku 'terjebak' menjawab panjang lebar. "What's inside this, Ma?" Telunjuknya menyentuh dahinya. "Brain." Kupikir sudah, titik. "Why do we have brain, Ma?" Dan kutatap dia dengan raut menyerah-malas-menjawab-tapi-selalu-nggak-tega, dan berkicaulah aku hingga wajahnya menunjukkan kepuasan disertai manggut-manggut. Entah mengerti atau tidak. Damian juga suka menceritakan mimpinya. Setiap pagi ia bercerita tentang mimpinya semalam. Kupikir mungkin sebagian benar, sebagian khayalan. Lalu,"Why do we have dreams, Ma?" Kali ini jawabku,"I'm not sure, Damian. Let me find out about that, OK?" Untunglah kali ini ia cukup puas, aku hanya berharap ia lupa. Ternyata tidak.

Cogito ergo sum, I think therefore I am. Ia bukan cuma seorang anak, tapi manusia yang utuh, berpikir. Aku jadi terpekur, sudah lama sekali aku tak bertanya 'mengapa'. Tidak banyak lagi yang jadi kejutan rasanya. Berita, cerita, bahagia, derita, hidup. Tidak lagi menimbulkan pertanyaan 'kenapa'. Sudah kurang rasa ingin tahu, antusiasme melihat hal baru. Menerima dan menyerap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dirasakan. Seringkali tanpa pertanyaan. Would that make me less of a human?

Monday, July 23, 2007

Catatan Perjalanan

Sabtu pagi di akhir Juni, musim panas yang cerah. Jam enam pagi kami sudah berkendara menuju Barat Laut. Melalui highway yang membosankan, membuatku jatuh tertidur lagi hingga beberapa saat sebelum memasuki Pittsburgh. Beberapa kali aku dan Umi bertukar pembicaraan di telepon. “Sudah sampai mana?” “Baru masuk Pittsburgh”. “Nggak ke Falling Water?” “Nggak dulu deh, waktunya nggak cukup, kalo mau tour at least butuh 2 jam. Rencananya jalan-jalan di kota aja.”

Perjalanan kali ini menuju Ann Arbor, Michigan, tempat tinggal kawan semasa kuliah yang belum lama melahirkan. Jaraknya 560 miles dari Baltimore. Rencananya kami akan berhenti di dua kota sebelum sampai tujuan: PittsburghCleveland. Lalu menghabisakan dua malam di Ann Arbor, dan kemudian dua malam di Chicago. Yang menarik dari perjalanan kali ini; tidak banyak historic district seperti yang biasanya kami kunjungi, melainkan kota-kota yang berkembang di jaman modern walau bangunan lama masih banyak dipertahankan. Maka kami sepakat tema perjalanan kali ini: kota dan arsitektur (hehehe, terlanjur koeli arsitektoer). Suami sudah menyusun tempat-tempat yang akan dikunjungi, terutama pusat kota (city center), bangunan landmark kota dan dan bangunan yang didesain arsitek moderen. Sementara aku sendiri kebagian mengurus tempat menginap, packing, perbekalan dan meminjam buku dari perpustakaan untuk melengkapi tempat-tempat yang akan dikunjungi.

Singkat cerita, selain singgah di Mellon Square, Bridge of Sighs, Dominion Tower, ada dua bangunan yang pantas dicatat: O’Reilly Theater by Michael Graves dan PPG Place by Johnson-Burgee. Setelah berjalan-jalan di kota, kami piknik singkat di Point State Park, tempat bertemunya dua sungai besar: Monongahela River dan Allegheny River menjadi Ohio River. Tempat ini termasuk dalam Nation Historic Landmark dengan pemandangan pinggir sungai yang sangat menarik, dan terdapat air mancur raksasa di ujung pertemuan dua sungai tadi.

Setelah perut terisi dan puas berfoto kami menyebrangi sungai menuju ketinggian Duquesne Incline. Damian sangat suka mengendarai sejenis kereta yang turun 45 derajat dan berusia 130 tahun ini. Pemandangannya selama menuruni bukit cukup menakjubkan, dengan latar belakang skyline kotaPittsburgh dan pertemuan dua sungai besar. Sekitar jam 2 siang baru kami berkendara lagi selama dua jam menuju Cleveland.

Yang menarik dari pusat kota Cleveland salah satunya adalah The Mall, taman kota digawangi Fountain of Eternal Life di Selatan yang dikelilingi gedung pencakar moderen karya Cesar Pelli dan HOK. Taman The Mall memanjang ke Utara diakhiri Lake Erie dengan fungsi wisata di pinggir danau seperti Science Center dan Rock&Roll Hall of Fame. Di sekeliling The Mall berdiri bangunan-bangunan pemerintahan neoklasik awal 1900-an seperti courthouse dan city hall, dilengkap sculpture moderen berskala raksasa seperti ‘Free’ dan ‘Portal’.

Setelah berjalan-jalan di pusat kota kami menyempatkan diri ke Heritage ParkConnecticut tahun 1796. Masa itu suku-suku Indian yang menetap di pinggir sungai ‘memberi jalan’ pada Moses dan ekspedisinya setelah disogok perhiasan dan whiskey. Lalu menetaplah Moses di sana, membangun settlement dan disebutlah kota baru itu Cleveland, diambil dari nama belakang Moses. Seperti bisa ditebak, musnahlah permukiman para Indian, dikalahkan oleh peradaban kulit putih yang terus berkembang dan beranak pinak. yang disebut Moses Landing, pinggir sungai Cuyahoga tempat Moses Cleaveland mendarat dalam ekspedisinya menjelajah

Melajulah kami selama hampir 3 jam menuju Ann Arbor, Michigan. Damian tertidur selama 2 jam perjalanan setelah lelah berjalan, berlari dan bermain air. Sekitar jam 9 malam kami baru check-in di hotel, dan setelah mandi langsung menuju kediaman Ludi dan Umi, yang sudah menyiapkan makan malam. Ternyata Fino terbangun, dan Damian sibuk menghibur. Kami sendiri bertukar cerita dan sekitar jam 12 malam kembali ke hotel, langsung pulas terdtidur.

July 1, 2007

Keesokan paginya kami sarapan di hotel yang dilengkapi dapur kecil, lalu keluar melihat-lihat kota Ann Arbor yang terkenal dengan University of Michigan. Di kompleks kampus kami melihat bangunan Bio-medical Research yang menarik dan ternyata setelah kutelusuri mendapat AIA design award dan didesain oleh Polshek NY. Jam sebelas kami bertemu lagi dengan Keluarga Mahadi dan diajak makan dim sum yang terkenal di Ann Arbor, lalu menuju Greenfield Village yang termasuk kompleks Henry Ford museum di Dearborn, sekitar 40 menit perjalanan. Kali ini Damian puas melihat-lihat ruang kerja Thomas A. Edison, rumah masa kecil Henry Ford, train roundhouse, dan terutama mengendarai kereta api selama hampir 1 jam melalui komplek yang cukup besar. Selama perjalanan itu kami melihat rumah petani, ladang tanaman, termasuk orang-orang yang bekerja dan bermain dengan kostum tahun 1800-an. Sekitar jam lima sore saat komplek museum tutup kami baru keluar, dan kali ini menuju Detroit yang hanya 15 menit perjalanan.

Di Detroit kami dibawa ke pusat General Motors tempat Ludi bekerja dan melihat pemandangan Danau Erie dari lantai 20-sekian. Pemandangannya cantik, di seberang perairan sudah terlihat kota Windsor di daratan CanadaAnn Arbor, lalu memesan makanan India untuk dimakan di rumah karena restoran hampir tutup. Setelah makan dan bercakap, tak ketinggalan bermain dengan Fino hingga larut, kami pamit dari kediaman Ludi&Umi. Thank you for having us, guys! We sure had fun in Ann Arbor. yang dihubungkan dengan jembatan atas danau maupun bawah air. Kemudian kami berjalan-jalan sepanjang boardwalk pinggir danau dan kali ini Damian bermain air mancur hingga basah kuyup, puas dan bahagia sekali wajahnya. Sekitar jam tujuh kami kembali ke

July 2, 2007

Pagi-pagi kami sudah bangun dan check out dari hotel. Jam tujuh kami sudah dalam perjalan menuju Chicago dan sekitar jam sepuluh kami sudah sampai di tujuan pertama: Robie House karya Frank L. Wright. Awal kunjungan ini menandai Chicago sebagai mecca of Architecture, dan selanjutnya dipenuhi dengan landmark yang memeta kota ini. Kunjungan berikutnya adalah IIT campus yang dihuni Crown Hall by Mies, dan McCormick Tribune by Rem Koolhas. Spot berikutnya adalah komplek Adler Planetarium yang memiliki pemandangan danau Michigan berlatar skyline Chicago yang menakjubkan. We haven’t even reached the downtown yet, but we already got excited!

Sebelum check-in di hostel tempat kami menginap dan ‘meginapkan’ mobil, kami memutari kota, bahkan sempat melewati Harpo Studio milik Oprah dan Wrigley Stadium. Sore itu kami menghabiskan waktu sekitar daerah Lincoln Park: mengunjungi Lincoln Park Zoo yang cukup besar dan koleksi binatang yang menarik, kemudian duduk-duduk di pasir North Avenue Beach sepanjang pinggir Danau Michigan.

Menurutku kota ini sudah menjadi theme park yang sangat besar. Dengan sedikit berjalan atau naik bus/el-train, kami sudah bisa mencapai tempat wisata atau taman atau pusat kota, atau seperti saat ini: kebun binatang dan pantai sekaligus. Sepanjang berjalan kaki pemandangan berganti-ganti karena sesaat melewati gedung tinggi, kemudian taman terbuka, kemudian menyeberangi jembatan, lapangan olahraga, taman bermain, dan tentu saja orang-orang yang berseliweran.

July 3, 2007

Hari ini dimulai pukul sepuluh pagi saat melangkah keluar hostel, dan ditutup pukul sepuluh malam setelah selesai melihat kembang api di Millenium Park yang kami saksikan dari Navy Pier. Duabelas jam waktu diantaranya kami berjalan-jalan di downtown Chicago, menyinggahi John Hancock hingga Sears Tower, Water Tower hingga Medinah Temple, duduk-duduk di Picasso hingga Flamingo, Buckingham Fountain di Grant Park hingga Crown Fountain di Millenium Park, Damian yang basah kuyup bermain air mancur hingga nonton sneak preview Ratatoulie, menguyah Garrett popcorn sambil menyedot frapuccino, berfoto di pinggir sungai hingga Navy Pier. Dan akhirnya melihat kembang api di langit selatan. Fun!

July 4, 2007

Perjalanan pulang mengarah Timur kami sempatkan mengunjungi tiga kota yang dilewati; Indianapolis, Cincinnati, dan Louisville. Setelah dari Chicago, rasanya kota-kota ini jadi biasa-biasa saja, hehehe….Walau begitu ada beberapa yang bisa dicatat: Contemporary Arts Center by Zaha Hadid di Cincinnati, dan Humana building by Michael Graves di Louisville. Setelah itu langsung kami lanjutkan berkendara hingga sampai home sweet home. Jam 2 pagi di 5 Juli.

Monday, June 11, 2007

Commitment

I feel like I’ve been having problems with commitment lately. As it means a pledge to something or someone, I definitely far from committed. I didn’t mean commitment to my immediate family since I put them on top of my list, as best as I can (not perfect, I admit). But even with my family in Indonesia; I don’t call them as much as I want. I don’t reply their sms or emails right away. I don’t send them Damian’s picture as often as I-don’t-know-how-long-ago. That’s embarrassing. 
 
I’m not committed to my religion since I’ve missed my duties and ceremonies. But if only He knows, I’m committed to pray to Him and whisper His name every time I start the day. And still trying. 
 
As commitment to work, which started as a-spare-part-time-work turned to full time, I just realized I don’t have that kind of commitment. At least not now. Some would say I’m being ungrateful, but really, it’s easy to juggle only if you have 36 hours a day (and don't blame me if still don't want to miss out Law&Order SVU). Even that might still leave me fallen asleep in Damian’s bed, forgotten to run the dishwasher. That’s my choice after all, and still I wouldn’t choose to have longer days because I won’t be perfect anyway. 
 
I have friends and I don’t, as they come and go as well as my commitments to them. I always love talking to them on the phone or spending time with them. But sometimes my mind is wondering about my other commitments, which actually I’m not committed to. That’s confusing, and I left out with little quality time and some might feel under-appreciated. As a friend. 
 
Nevertheless, I slip in some quiet time to commit, again, to my blog. This has the least retort to my imperfection and undisciplined commitment.