Thursday, January 03, 2008

Approval

Belakangan ini aku merasa bimbang. Tiba-tiba jadi tidak percaya diri dengan keputusan yang akan diambil. Tanya sini. Tanya situ. Timbang sana. Timbang situ. Intinya butuh konfirmasi akan pemikiran sendiri. Aneh, padahal harusnya sudah cukup dewasa (tua?) untuk mikir sendiri. Ternyata masih butuh orang lain dalam konsep pemikiran. Butuh approval.

Seringnya minta pendapat suami, lain kali minta pendapat orang lain yang memang lebih pengalaman/ahli dalam keputusan yang dihadapi. Tapi tetap saja walau sudah punya keputusan sendiri kadang masih butuh mendengar ‘iya’ dari orang lain, atau sekedar panggutan kepala pertanda sependapat, nggak harus literal atau diskusi panjang lebar. Pikir-pikir, harusnya nggak begitu. Apalagi kalo keputusannya cuma menyangkut diri sendiri.

Apa setelah ada pendamping aku jadi keenakan dengan dua otak? Merasa lebih baik kalau disetujui dan jadi berpikir dua kali kalau tidak disetujui? Atau terbiasa diarahkan jalan sejak kecil dan minta persetujuan orang tua? (Mengingatkanku akan Damian yang masih sering minta approval). Atau bahkan hidup dalam lingkungan yang judgmental? (Merasa aman kalau searus atau dimusuhi kalau berbeda pendapat). Bukan menyangkut intelektual atau angka rapor, bukan juga soal rasional atau emosional. Jadinya dari skala kecil sampai skala besar masih butuh approval tanpa sadar. Atau mungkin juga kurang faithful sama diri sendiri. Mungkin itu.

Let others be my resource and not my guidance. Trust my judgment on things I needed to decide.

Saturday, December 29, 2007

A Thousand Splendid Suns

Pengarang: Khaled Hosseini
384 halaman, hardcover

Penerbit: Riverhead Books

Tanggal Publikasi: 22 Mei 2007


Khaled Hosseini mengawali novel terbarunya dengan memperkenalkan kata harami, bastard. Sepotong kata yang familiar dalam bahasa Indonesia: haram. Bagi Mariam yang berumur lima tahun, kata itu berarti makian ibunya bagai mengusir serangga yang tidak diinginkan. Baru kelak ia mengerti bahwa ia anak haram, tidak layak beroleh perlakuan dan kasih sayang seperti anak yang ‘legal’. Setelah ibunya menggantung diri dan kedatangannya ditolak Jalil (sang ayah yang beristri tiga), Mariam semakin sadar dirinya hanya ada untuk melayani orang lain.

Dengan latar pinggiran desa Gul Daman di tahun 1974 tempat Mariam tumbuh besar, dan kemudian Herat, cerita baru mulai sepenuhnya di Deh Mazang. Wilayah ini terletak di pinggiran kota Kabul, tempat Rasheed memboyong Mariam sebagai suami istri. Dua orang yang berbeda dialek dan adat dalam satu atap pastinya menimbulkan konflik. Rasheed, pria Pashtun berusia 45 tahun, menganggap rendah Mariam yang orang Farsi tanpa sekolah dan terlebih lagi harami. Kekejaman Rasheed semakin menjadi setelah Mariam keguguran anak pertama, kedua, hingga ke enam. Penderitaan Mariam berlanjut hingga akhir bagian pertama, bersamaan saat komunis menggulingkan kekuasaan Daoud Khan di tahun 1978.

Hosseini bertutur layaknya adegan film yang dituangkan dalam tulisan. Penuh suspens, kalimat menggantung di akhir bab, atau adegan klimaks yang merubah plot. Hal ini membuat tulisannya mengalir terburu karena banyak adegan dan percakapan yang ingin disampaikan. Bahkan deskripsi mengenai Deh Mazang, Kabul, dan latar terjadinya setting terasa samar. Rasanya pembaca tidak keberatan membaca buku yang lebih tebal untuk mendapat narasi yang lebih detail tentang karakter maupun setting, selain adegan yang tampak menarik jika difilmkan.

Faktor ini pula yang membuat saya kurang bersimpati terhadap tokoh Mariam yang penderitaannya begitu hebat, cenderung didramatisir. Berulang kali kepasifan Mariam menimbulkan rasa gemas, walau dengan latar belakang hidupnya kepasifan itu sangat mungkin terjadi. Momen menarik saat Mariam pertama kali mengenakan burqa menjadi hal biasa, karena mungkin hal itu sangat lumrah di Kabul. Saya berharap karakter Mariam melontarkan pemikiran yang lebih jelas mengenai hal ini. Begitu pula di akhir bagian pertama cerita, saat Mariam dicekoki kerikil oleh Rasheed hingga mulutnya berdarah dan giginya rontok. Mengingat Amerika tempat Hosseini menelurkan karyanya, perlu ditelusuri lebih jauh hal-hal yang terasa asing bagi kalangan pembaca.

Bagian kedua loncat ke tahun 1987, memulai tokoh Laila yang berusia sembilan tahun disertai Tariq, kawan masa kecil yang kemudian (bisa ditebak) menjadi kekasih. Tokoh Tariq yang berkaki palsu mengingatkan saya akan film Kandahar (2001), yang membuka filmnya dengan adegan ironis: pria-pria berkaki satu atau tanpa tungkai berlomba mengejar pesawat Palang Merah yang tak berani mendarat. Pesawat ini menjatuhkan kaki palsu baru dengan parasut yang melayang-layang, dan para pria ini adalah korban ranjau perang seperti Tariq.

Perjalanan kedua bocah menuju Patung Budha di Bamiyan menjadi bagian menarik yang membuka sisi lain Afghanistan. Patung ini menjadi simbol sejarah keragaman religi di jalur sutera beribu tahun lalu di Bamiyan. Ketika kemudian kekuasaan Taliban meluluhlantakkan kedua patung Budha, bisa dimengerti jika muncul perasaan marah dan antipati terhadap aksi penghancuran ini. Kisah Mariam dan Tariq terus berlanjut hingga tahun 1989 saat Soviet meninggalkan Afghanistan, hingga tahun 1992 ketika Mujaheedin menguasai Kabul.

Latar sejarah Afghanistan selama periode ini dituturkan menarik, terutama dengan benang merah dua saudara laki-laki Laila yang berjihad melawan komunis. Mammy (ibunda Laila) keluar dari balik selimutnya, berpesta saat Mujaheedin konvoi di jalan-jalan kota Kabul. Tapi kemenangan ini malah memunculkan pemberontakan lain terhadap pemerintah Rabbani, antar kekuatan sipil Pashtun, Hazara, Hekmatyar, dan Massoud. Peperangan kembali membayangi Kabul, dan Mammy kembali bersembunyi di bawah selimutnya.

Tariq dan keluarga akhirnya mengungsi ke Pakistan, menoreh kenangan dalam diri Laila. Saat keluarga Laila ikut merealisasikan mimpi dan bersiap meninggalkan Kabul, mendadak harapan itu musnah. Diterjang dentuman bom yang menembus rumah Laila hingga ke tanah. Gaya tutur ala direktur film menjadi prosa yang indah dalam barisan kalimat,” .... So did a thousand shard of glass, and it seemed to Laila that she could see each individual one flying around her, flipping slowly end over end, the sunlight catching in each. Tiny, beautiful rainbows.”

Bagian ketiga mempertemukan dua tokoh utama wanita Mariam dan Laila, keduanya sebagai istri Rasheed. Balutan cerita protagonis melawan antagonis begitu nyata, cenderung hitam-putih. Kesedihan berlanjut dengan penderitaan, berputar bergantian hingga simpati terhadap dua wanita dan seorang anak nyaris menjadi datar. Namun kesuraman ini tak mampu menandingi kengiluan saat Laila terpaksa melahirkan anak kedua dengan operasi caesar tanpa anestesi. Hosseini menuturkan pergolakan di Afghanistan tahun 1997 di bawah Taliban, ketika rumah sakit tidak diperuntukkan untuk wanita, dan dokter wanita yang tersisa harus mengoperasi pasien dengan mengenakan burqa.

Dentum peperangan menjadi bingkai hidup rakyat sipil di Kabul. Selalu terdengar tanpa harus terlibat, namun menimbulkan ketegangan, kekeringan, kemiskinan. Tanpa bermaksud menghilangkan unsur surprise buku ini, tiba-tiba sudah saatnya Laila keluar dari kesuraman. Bahkan penulis memberi penutupan tokoh Jalil dalam rupa surat dan – untuk keuntungan Laila – sejumlah uang. Suatu kebetulan yang memudahkan, nyaris klise. Dengan latar belakang Laila yang berpikiran lebih maju, selain karena sudah mengecap bangku sekolah dan pengaruh Babi sang Ayah, ternyata jalan keluar tidak datang dari diri Laila sendiri.

Pencerahan untuk Afghanistan berlanjut di bawah pimpinan Hamid Karzai tahun 2002. Saat ini Tariq dan Laila kembali ke Kabul setelah sekian tahun mengungsi ke Pakistan. Cerita kemudian diakhiri dengan latar kota Kabul tahun 2003, memuat secercah mimpi pembangunan, kemajuan kaum wanita, dan keinginan untuk berperan. Walau disebut dalam epilog delapan juta warga Afghanistan menjadi pengungsi, tokoh cerita menjadi wakil rakyat yang masih menaruh harap. Harapan yang entah kapan terpenuhi, karena di tahun 2007 ini masih terjadi peperangan di Kabul, pemberontakan Taliban melawan koalisi Amerika. Dari 5000 lebih orang yang terbunuh tahun ini (menurut AFP), 700 orang adalah warga sipil.

Secara keseluruhan A Thousand Splendid Suns adalah novel literatur populer berlatar sejarah Afghanistan, menarik dan layak menjadi koleksi pembaca fiksi, bahkan sangat mungkin dituangkan sebagai film. Seperti buku pertama Khaled Hosseini: The Kite Runner yang edar filmnya musim gugur tahun ini. Berbeda dengan karya sebelumnya, novel kedua ini dipenuhi muatan mengenai kehidupan wanita Afghan, budaya dominasi pria, dan latar belakang sejarah Afghanistan selama tiga dekade. Bahkan disebut-sebut novel ini ditumpangi propaganda Amerika, walau menurut saya fiksi adalah fiksi, terserah bagaimana pembaca menanggapinya.

Sebagai penulis handal, Khaled Hosseini yang kelahiran Kabul dan sekarang menjadi duta UNHCR, masih menyusupkan prosanya di sana-sini. Ia merangkum tentang negara asalnya yang tak henti berperang dengan jitu, tertuang dalam ucapan pengemudi taksi dalam perjalanan ke Bamiyan,” And that my young friends, is the story of our country, one invader after another.... Macedonians. Sassanians. Arabs. Mongols. Now the Soviets. But we’re like those walls up there. Battered, and nothing pretty to look at, but still standing.....

Friday, October 19, 2007

Kosong

"Aku merasa kosong" ujarnya, lamat. Tanpa binar semangat, pun tanpa semburat sendu. 
 
"Kenapa?" tanyaku tanpa mengharap jawab. Aku tahu, kali ini bukan penjelasan yang penting. Hanya rasa. "Mungkin kamu sudah moksa," gurauku menyunting senyumnya. "Sudah di atas awan, nggak ingin apa-apa lagi, nggak merasa apa-apa lagi...." Pikirku, tiadakah lagi yang penting buatnya? Mungkin, harapku, hanya saat ini.  
 
Senyumnya pudar, pandangnya kembali mengawang," Nggak tahu, kosong aja...." dan berlalu dari hadapku. Seribu kenapa menghujam benak. Tapi aku tahu, bukan penjelasan yang penting. Hanya rasa.  
 
Saat harap terhempas dan melayang, mengundang harap lain yang tak lagi mampu menggayut senyum. Saat uang tak lagi mampu menyogok keinginan, teronggok di celengan berselaput debu. Saat langkah tergesa mengejar jabat menjadi lambat, tak lebih cepat dari merangkak. Kerja jadi biasa, prestasi jadi klise, ambisi jadi memuakkan. Ucap jadi basi, senyum jadi tawar, tawa jadi hampa. Tak ada lagi kecewa, tak juga sesal. Kosong. 
 
Itukah kosongnya? Seperti gelas yang airnya habis diminum? Atau gelap yang merayapi malam, atau desis statik setelah lagu usai? Kosong tanpa pretensi.... Seperti kertas yang penuh tulisan dan kemudian dihapus. Seperti menutup cerita di sebuah buku, atau menelepon kekasih yang jauh. Ada, namun tak terjamah. Memenuhi pikiran, sekaligus memeras otak hingga kering. Kosong, tak positif, tak pula negatif. Titik nol.  
 
Hari ini ia tersenyum. Saat tulisanku belum usai, kosongnya sudah lalu. Sudah kuduga, kosong itu ada buat dia. Kosongnya adalah putihku. Saat rasaku tak berwarna, di satu masa.

Wednesday, August 22, 2007

Summer That Reads

Fiction reveals truths that reality obscures. ~Jessamyn West

Summer is almost over. The sun sets earlier, the clouds fly heavier, and the grass glistens from early morning raindrops. Somehow I love fall better, but now I already miss long-noon-sunshine when we can swim till late or driving with no hurry or play outside all day. It’s like life seems longer, time goes slower.

Anyway, apart from all of that -and summer vacations, beaches, barbecuing, day trips, and other ‘summer stuff’- there are books I want to write about. There were actually about four and a half fictions/literature I’d read in these 3 months.

First is
The Secret Life of Bees by Sue Monk Kidd, which had an interesting way of narrating the story of a young girl with problematical background, but I eventually became bored. It’s simply because I could not relate to the setting of the story, which I later learned from Amazon, actually took place at the time of ‘Southern Gothic’ in 1960s. Well, guess I got nothing much left to say on this one.

The second is an easy mindless read of a pop-novel
The Right Address by Carrie Karasyov and Jill Kargman. Along the way I always laughed almost vomit at these rich people of Park Avenue NY who got sooo much money almost-too-many that they have nothing else to do but gossiping, shopping, partying, social-climbing, and then some more gossiping. I know it’s always fun to imagine such lifestyle but there’s always a price on that: you might not be able to be just yourself. Too many masks to wear. After I finish I almost feel grateful being middle-class, although I must admit that these characters of women can be easily found in any classes of life. Uh-huh. Other than that, I think the writers purposely told the story in a chick-lit way that was shallow, mindless, and gossipy to create the exaggerating unsophisticated life of supposedly sophisticated people. There, don’t read it I’d say.

Then there is
The Brethren from John Grisham. I always read Grisham’s books that involve lawyer, court, judge, and clients, whatever. Always fun and easy. Always flip through the pages till finish, and he’s good at this plot of thriller, slowly reaching its climax with, unfortunately, more and more predictable ending. Not as good as his other books but I’m still amazed how I missed this not-so-new one. Oh, by the way, the character Aaron Lake reminds me of ex- New Jersey Governor Jim McGreevey who was actually a gay but getting married to achieve his political career. And from him I would know that there’s the term ‘gay-american’ which sounds like ‘asian-american’ or ‘hispanic-american’, like it’s some kind of new ethnic group in the US. Well, I’m way off the course now. Let’s move on.

The Conch Bearer by Chitra Banerjee Divakaruni already reminded me of LOTR from the start. Especially this 12 year-old Anand that resembles the character of hobbit who had to bring the conch from Calcutta to the Himalayas. I love the wisdom and exotic Indian setting, with Hindi culture and ethnic food that almost made me drooling. The story itself mostly a kid fantasy that would fit middle-high school reading. But the wisdom…. That part would leave me speechless since it’s so related even with adults. With people who have lived many more years than kids but still searching for the classic wisdom of honesty, loyalty, and compassion. Which one would be the most important for you?

There is one special sentence in this book that really intrigued me “… in order to gain something great, one must release his hold on something else equally beloved.” I always thought that everything you have had never taken away from you, it just changed its substance. Some kind like the law of conservation of energy: energy can not be created or destroyed; it can only be changed from one form to another. Which lead me to think that every person already had his/her talent, even fate, but sometimes it changes to something else unpredictable. Like when you work extra hours with extra money but then you had to change your car tires (yup, extra money=new tires), or even give up an office job to home job such as raising a kid, or not being a lawyer but being a teacher. How can you tell that one is better than the other, that they are not equal? (Oh… please don’t take out that calculator). Or have ever thought that the more money you have it doesn’t mean your bank account becomes fatter???

Okay, so my last book this summer is a splendid book:
House of Sand and Fog by Andre Dubus III, which actually not new at all even already was being filmed. The characters are strong: Massoud Amir Behrani, a former colonel in the Iranian military under the Shah who was fleeing to the US and try to reach the American dream, his submissive wife Nadi, and Kathy Nicolo, a lost soul right after she lost her house; even I can understand the troubled mind of Deputy Sheriff Lester Burdon. The way the story told also interesting, making me put myself as an ‘I’ in the character and try to understand his/her way of thinking.

The story itself is remarkable, original and tragic at the same time, really different from any other books I’ve read about immigrant in the US. By the second part of the book, which I thought I might have speculated the ending, I actually could not guess at all until I reach the last page. And I got that kind of ‘hollow in your heart’ feeling after I finished. It’s like you can not absorb the meaning of it all right away. You feel sad and angry and empty at the same time. And you turn the back cover in slow motion, try to save the whole story in your mind before the book is really closed. This one is a four star.

I wish summer would span a little bit more time until I get my waiting list book:
A Thousand Splendid Sun by Khaled Hosseini, which I really hope to get my five star. I fell in love with his first book which I had read nearly two years ago: Kite Runner and it actually will show up in a movie this fall. Well, I guess that’s why his second book becomes so popular I need ten more people to finish reading it before I can get it from the library. And so I start counting….

Monday, August 06, 2007

Why?

Entah sejak kapan Damian mulai menyebutkan satu kata itu. Why? Mungkin awalnya tidak kusadari, karena awalnya hanya menanyakan masalah 'sepele'. "Why do people eat, Ma?" "Biar tambah besar dan kuat," jawabku singkat. Dan ia manggut-manggut. Lalu,"Why do we pray, Ma?" "We should be thankful and ask for blessings." Habis ini ia akan menanyakan "What is blessings, Ma?" Kali ini aku mesti berpikir dulu sebelum menjawab. Itu masih biasa.

Kemudian setiap kali aku minta dia melakukan atau tidak melakukan sesuatu langsung disambarnya,"Why, Ma?" Ohhh, rasanya tidak habis-habisnya aku berucap menjelaskan panjang lebar hanya untuk menjawab satu kata itu. Setiap kali ia bertanya sebelum melakukan apa yang kuminta. Itu masih kuanggap biasa. Dan selalu bisa dijelaskan alasannya.

Film pertama Damian di bioskop, Spiderman 3. Seru, banyak action, dan Damian antusias menyaksikannya. Yang lebih seru lagi,setiap ada adegan yang tidak dimengerti ia akan bertanya,"Why Spiderman turned black,Ma?" "Why the Sandman jadi bad guy,Ma?" "Why Harry jadi goodfriend lagi, Ma?" Dengan suaranya yang nyaring. Di dalam bioskop. Dan aku sibuk menjawab berbisik-bisik. Oh well, untunglah film anak-anak. Banyak anak-anak, dan nggak terlalu penting buatku mengikuti setiap adegan.

Belakangan, variasi dan bobotnya bertambah. Seringkali aku 'terjebak' menjawab panjang lebar. "What's inside this, Ma?" Telunjuknya menyentuh dahinya. "Brain." Kupikir sudah, titik. "Why do we have brain, Ma?" Dan kutatap dia dengan raut menyerah-malas-menjawab-tapi-selalu-nggak-tega, dan berkicaulah aku hingga wajahnya menunjukkan kepuasan disertai manggut-manggut. Entah mengerti atau tidak. Damian juga suka menceritakan mimpinya. Setiap pagi ia bercerita tentang mimpinya semalam. Kupikir mungkin sebagian benar, sebagian khayalan. Lalu,"Why do we have dreams, Ma?" Kali ini jawabku,"I'm not sure, Damian. Let me find out about that, OK?" Untunglah kali ini ia cukup puas, aku hanya berharap ia lupa. Ternyata tidak.

Cogito ergo sum, I think therefore I am. Ia bukan cuma seorang anak, tapi manusia yang utuh, berpikir. Aku jadi terpekur, sudah lama sekali aku tak bertanya 'mengapa'. Tidak banyak lagi yang jadi kejutan rasanya. Berita, cerita, bahagia, derita, hidup. Tidak lagi menimbulkan pertanyaan 'kenapa'. Sudah kurang rasa ingin tahu, antusiasme melihat hal baru. Menerima dan menyerap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dirasakan. Seringkali tanpa pertanyaan. Would that make me less of a human?