Thursday, September 30, 2004

Sahabat Lama


Ucap seorang sahabat lama, yang mengarung jarak sekian ribu kilometer kabel - dalam hitungan sekian jari dalam setahun, terkadang menapak lebih dalam dibanding keseharian ucapan dan seringnya perjumpaan. Ia, yang kukenal sejak rambut kami masih berkuncir kuda dan tubuh berbalut seragam biru. Sepatah cakap yang langsung kumengerti tanpa banyak basa-basi. Seseorang yang pernah kutemui kala sadar tercabut dari pipa nadi. Percakapan kami tak pernah benar-benar selesai karena acap terusik, dan toh bisa kami sambung sendiri dalam hati. Karena kami saling mengerti. [Dan kami sama-sama penggemar kopi, walau sama-sama membawa calon bayi di perut buncit, bercurah kata di Spinelli Bugis Junction atau di Starbucks Centerpoint, dulu sekali].

Sampai di satu titik masa kini, "Kalau mau disamain, gue ni udah kayak karet melar. Udah nggak bisa diapa-apain lagi, tinggal nunggu putus aja...". Perumpamaan yang ekstrim olehnya, walau mengungkap kebenaran. Dan yang mengherankan, di titik yang sama, aku berpikir dengan perumpamaan lain," ...seperti lilin yang mau habis, lelehan bentuknya nggak jelas, tinggal nunggu sumbunya berhenti nyala...". Tapi tak sempat kusampaikan padanya, karena aku masih terheran-heran dengan kesamaannya. Kesamaan pikiran yang terentang jarak sekian ribu kilometer kabel, dalam hitungan sekian jari dalam setahun. Itulah ia, sahabat lama.

Oh ya, satu ucap lagi sebelum terlupa: Thanks Pal.

2 drops:

neenoy said...

samar2 gue inget pernah ngobrol berdua dg elu di cihaur duluuuu sekaliii, tentang betapa pentingnya untuk tetep punya sahabat walaupun seseorang udah berkeluarga. yap, terutama sbg orang yg ditemui "kala sadar tercabut dari pipa nadi"

eh, sekarang udah ngerasain sendiri yah... hehehe...

dy said...

Iya Noy, samar2 inget... emang dari dulu pikiran elo mature juga ya... :)