Tuesday, September 15, 2009

Si Mbah

Mbah putri berpulang. Kakak tertua saya menelepon dari Jakarta. Sejak Bapak tiada, saya jadi was-was setiap menerima telepon dari Jakarta, diluar hari ulang tahun kami. Terutama telepon di jam yang aneh. Saya takut berita buruk.

Kenyataannya, Mbah memang sudah sepuh, usia delapanpuluhan . Sewaktu pulang ke Jakarta bulan Juli lalu, ia hanya tiduran saja, atau duduk di kursi roda. Mungkin malah kepulangannya membebaskan Mbah dari sakit tuanya. Saya percaya Tuhan memberi yang terbaik. Semoga Mbah damai disisiNya. Amin…

Tetapi kematian selalu menyisakan isak. Setiap bulirnya menetes kenangan akan sosok yang pernah dekat. Kekaguman pada perawakannya yang tinggi langsing. Kebanggaan pada kekuatannya membesarkan tiga anak seorang diri. Salut pada pribadinya yang terbuka. Keinginan menyamai tekunnya bekerja, dan keteguhan untuk percaya.

Terutama kenangan akan kesetiaannya.... pada anak, menantu, cucu, dan setia pada YME. Melebihi orang-orang lain yang pernah saya kenal.

Katanya, orang yang meninggal di usia muda adalah orang baik. Good men die young. Tuhan memanggil di usia muda, menjauhi kesusahan hidup di hari tua. Tapi saya percaya orang yang hidup hingga usia sangat lanjut juga disayang Tuhan. Karena dipilih oleh Nya untuk menjaga yang masih hidup. Memberi kesejukan dan perlindungan buat orang lain. Seperti Mbah Putri.

Sungkem saya dari jauh, Mbah....