Friday, May 28, 2010

Satu Subuh di Hari Sabtu

Satu subuh di hari sabtu. Malam sebelumnya hanya tertidur sebentar, tak lelap. Begitu terbangun langsung terpikir hal-hal yang harus diselesaikan. Rasanya banyak, masih terlalu banyak. Untuk waktu yang demikian sempit.

Langit diluar mendung, udara menggigil. Awal musim dingin yang kelabu. Lengang seperti kampung tak berpenghuni. Suara dalam ruang menggema, sudah tak banyak barang di sana. Hampir melompong. Tiba-tiba terasa amat sunyi, hanya bunyi langkah kaki tergesa kami, percakapan pendek pendek, desing angin di luar. Pikiran kami terasa memecah hening, lebih berisik dibanding alam nyata. Terlalu penuh dengan rencana, skenario, kekuatiran akan terlambat, mengharap cuaca lebih bersahabat. Tentu saja, Damian masih tidur.

Tanpa kopi seperti rutinitas biasanya, coffee maker sudah tak ada. Harus gerak cepat. Memilah barang tersisa yang harus dibuang atau dioper ke teman. Mandi, membangunkan Damian, menelepon teman yang akan mengangkut barang. Termasuk kasur lipat besar yang kami pakai semalam. Kasur yang asalnya dari sofabed, dari Ikea enam tahun lalu. Sofanya sudah lama rusak, tapi matrasnya masih bisa dipakai. Berjasa mengalas kami tidur kalau ada tamu yang menginap. Telepon sudah diputus, pula telepon genggam. Bisa dibayangkan deringnya tak putus kalau masih tersambung. Kupikir masih ingin menelepon sana-sini, tapi menyadari takkan sempat.

Damian sudah mandi, kupanaskan hotpocket instan di microwave. Saat itu terdengar ketokan di pintu. Sari yang selalu berwajah ceria tersenyum lebar, dipeluknya aku hangat. Butiran hujan membasahi kupluk sweaternya. Bertukar cerita, tertawa, janji saling menghubungi. Lalu memindahkan barang ke mobilnya. Kami tergesa, ia mengerti. Tak bisa meninggalkan tiga anak di rumah terlalu lama, katanya. Matrasnya akan berguna buat orang Indo yang baru datang, tambahnya. Berpelukan lagi. Ada sedikit haru, ditimpali rintik gerimis. Tapi kami harus bergegas. Kali ini memasukkan barang yang hendak dibuang ke mobil untuk dibawa ke pembuangan. Bantal-bantal bereces Damian, seprai kumal, bedcover besar, standing lamp yang tidak lagi tegak, alat listrik tak terpakai. Rasanya tak ada habis.

Kami berkendara menuju dumpster kota. Jauhnya sekitar setengah jam dari apartemen. Damian duduk di belakang, terhimpit barang dan box. Dia tidak protes, selama ada game di genggamnya. Baru memasuki I-83 hujan tambah deras. Bukan cuaca yang bagus, mengingat dumpster jadi sangat becek.

Dan tiba-tiba salju mulai berjatuhan dari langit. Putih, cantik, suram. Tak biasa di awal Desember. Ajaib. Hampir tak bisa berkatakata, antara meresapi keindahan salju, bersyukur diberi kesempatan terakhir menikmatinya. Ditimpali kekuatiran akan jalan macet jika cuaca memburuk. Hampir merasa besar kepala, terpikir kota inipun menangisi kepergian kami.

Berulang kali kami ke tempat pembuangan ini sebulan terakhir. Area pembuangan yang sangat besar tapi cukup teratur. Areanya terpisah menurut jenis barang. Yang bisa didaurulang dipisahkan lagi, dari ban mobil, alat listrik, kardus, gelas, bola lampu. Lalu kami menuju area paling belakang, tempat pembuangan sampah paling besar, bentuknya seperti bendungan besar, hanya tanpa air. Pinggirnya dibuat parapet pembatas dengan area parkir, jadi orang yang parkir mundur bisa langsung membuka bagasi dan melempar sampahnya ke dalam dam sampah itu. Dari furniture, kasur, kayu, segala rupa tetekbengek yang dianggap tak terpakai lagi. Kami langsung parkir dan bekerja, tak sempat mengucapkan selamat berpisah pada barang-barang yang baru berusia enam tahun.

Rintik hujan masih menemani. Renda salju masih melayang di udara. Jalan becek dan licin. Kami berdoa dalam hati, semoga perjalanan ke airport nanti tak terhalang cuaca.

Sesampai di apartemen kami langsung beberes lagi. Damian menolak masuk, ingin main salju dulu katanya. Lidahnya sudah terjulur keluar saat pintu mobil terbuka, menadahi renda salju, mengecapnya. Kubiarkan ia.

Harus berangkat jam sepuluh, dan ini sudah jam sembilan. Aku mengumpulkan buku yang hendak ditinggal di meja mesin laundry di basement. Semoga berguna buat penghuni lain. Saat naik lagi ke atas aku berpapasan dengan wanita tua yang tinggal satu lantai di atas kami. Aku langsung bercerita dan berpamitan. Kami tinggal berdekatan walau tak akrab. Tapi ia salah satu tetangga yang baik, menyemangati Damian yang belajar sepeda, meninggalkan kartu natal dan kue kering di muka pintu di hari natal. Kami selalu bertegur sapa, ia sempat bercerita soal kanker yang menyerang dirinya, dan kemoterapi yang harus dijalani. Wanita yang baik hati, ia memeluk kami berdua. "You are brave people," katanya. Matanya berkaca.

Mungkin sulit dibayangkannya, kami yang melanglangbuana, akan terbang nanti malam langsung pindah ke negeri yang asing. Mungkin seumur hidupnya ia sendiri tak banyak bepergian, seperti umumnya orang di sini. Kami berpamitan pula pada tetangga yang tinggal di bawah apartemen kami, yang saudaranya karyawan UPS dan selalu menyimpankan paket yang tergeletak di pintu depan. Ia kelihatan tak percaya, membayangkan segala kerepotan yang kami jalani. Maaf, kami harus bergegas. Mereka mengerti, mengucap selamat jalan sekali lagi.

Damian masih bermain salju, kami memasukkan koper-koper ke bagasi. Nyaris tak cukup. Lalu kami memeriksa seluruh kamar, lemari, dan laci. Tak ada yang tertinggal. Kami siap berangkat. Damian berlari lagi ke bawah. Aku mengunci pintu di belakang kami. Iyus mengambil tag nama yang masih menempel di pintu. Nama lengkap kami berdua.

Kami berpandangan, mata kami berkaca. Lalu berpeluk erat. Kelebat enam tahun melintas cepat, dasyat. Dada kami sesak. Haru dan nostalgi menjadi satu. This is it. Mataku masih basah saat menuju mobil, berbaur dengan butiran salju. Membisik selamat tinggal Baltimore dalam hati.

Mobil kami dipenuhi koper. Perjalanan masih 3 jam menuju JFK. Salju masih turun. Diseling hujan. Melewati interstate yang familiar. Pemandangan mengabut di jembatan Susquehanna River. Di kiri-kanan permukaan air tak kelihatan. Seperti mengapung di udara, menuju negeri di balik awan. New Jersey Turnpike lewat tanpa henti kali ini. Menahan rehat kopi hingga nanti. Highway memadat di exit Lincoln Tunnel. Garis langit Manhattan tertutup awan. Hanya pucuk Empire State Building menyembul. Lagi, dalam hati mengucap selamat tinggal NY. Lalu Menyisir pinggir air di Long Island yang sepi karena hujan. Tibalah di JFK. Menurunkan koper, Iyus mengembalikan mobil. Damian menunggu sambil bermain video game. Security perempuan yang ramah, tiba-tiba mengajak ngobrol, menanyakan mainan Damian, menceritakan tentang anak putrinya. Mengucapkan selamat jalan.

Kami check in setelah Iyus kembali. Membayar kelebihan bagasi, menenangkan Damian yang mulai bosan dan lapar. Melewati security gate. Siap di gate yang dituju. Gerbang 'point of no return'. Duduk. Beli kopi dan snack. Meniup kopi dalam genggaman tangan. Meresap hangatnya. Damian tenang dengan makanannya.

Tiba-tiba kelegaan melesak dari dada. Mendadak bergelora. Excited. Membayangkan yang akan terjadi. Merancang yang diperbuat pertama kali. Wondering. Bermimpi. Semuanya sudah di belakang. Enam tahun.

Saat kaki melangkah masuk pesawat, bab baru itu dimulai.

Saturday, February 20, 2010

A Story of The First Love Song

Love did not exist.
That was what the first couple on earth should live with. No Love.

They worked side by side like machines, lived together like animals did, they only spoke in sign language, they did not pray nor sing. As to pray they need one to love, and song can only be sung with loving heart.


One day the fruit of wisdom opened their eyes, ears, and heart.
It was like a whistling wind, a dripping sound of waterfall, crackling firewoods, whispering bamboo leaves, a sound of heartbeat. It's every sound all in one.

It was Love.

They fell in love with Love. They felt the joy and sadness at the same time. The jumping up and down, the turning around. Then they started to hum.
They were imitating the whistling wind, dripping sound like waterfall, clacking their tongue, hissing their teeth, and so on. They even tried to beat things to get its noise, to hear each sound of everything. Tried hard to explain the feeling they felt, to let go the soar in their heart. They started to talk to each other with sounds.

Then they started to sing.

As only through singing can they express their feelings.
But still they could not sing Love.
There was no exact sound to match it; no perfect song could describe it. Not a thing can make a sound of it, not even all sounds altogether.
The joy and sadness all in one in their heart.

They almost gave up love, did not want to sing anymore. They got angry and started to sing together. That was when they made love for the very first time.

They felt love all over again, made the best love song ever. After awhile though, not even that special song can they call Love.
They regretted and almost hated the fruit of wisdom, as the pain in their heart grew stronger with love. But they just could not hate it, as Love is more powerful. And because of love they forgot that they grew old. They started to have kids and got busy with the little joys. Then they forgot to sing.

The kids were born from Love and they liked to sing all the time. They even did better by dancing with it. Singing and dancing by the river, through the woods, over the grassfield, with birds and butterflies.


The old couple hardly sings anymore, but they told their kids to keep singing. To compose the best love song they ever could in life.

To James and Mer (who keep encouraging me to write :))

May you sing the best love song ever,