Wednesday, May 24, 2006

Dance With My Father

I've never heard this song my whole life. And when I drove home, this song just came out of the blue at wsmj, by Luther Vandross. I'm being selfish, but this morning, I know this song is for me...

Back when I was a child
Before life removed all the innocence
My father would lift me high
And dance with my mother and me and then

Spin me around till I fell asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure
I was loved

If I could get another chance
Another walk, another dance with him
I’d play a song that would never, ever end
How I’d love, love, love to dance with my father again

When I and my mother would disagree
To get my way I would run from her to him
He’d make me laugh just to comfort me, yeah, yeah
Then finally make me do just what my mama said

Later that night when I was asleep
He left a dollar under my sheet
Never dreamed that he
Would be gone from me

If I could steal one final glance
One final step, one final dance with him
I’d play a song that would never, ever end
‘Cause I’d love, love, love to dance with my father again
......

lyrics taken from here

Monday, May 22, 2006

Buat Bapak

Bapak,

Tulisan tentang Rendeng masih ada di halaman ini. Tentang memori masa kanak. Secuil tentang Bapak. Tulisan itu masih ada Pak, belum sempat saya kirimkan (karena Bapak tidak lancar dengan komputer, dan dulu saya tidak sabaran mengajarkan). Dan sekarang Bapak sudah menyusul Mbah Putri. Maaf saya di posting lalu masih terpeta, dan sekarang saya sudah harus mengucapkannya lagi.

Beribu maaf saya Bapak, tidak bisa ada di sana. Kali ini buat melepas kepergian Bapak. Dan maaf buat kesalahan saya yang lain, yang terlalu banyak. Semoga Bapak damai disisi-Nya. Amin.

And though I didn't say it much then, I want to scream it out loud now.
I love you.

Sunday, May 21, 2006

In-between people

Dari perbincangan dengan seorang kawan saat makan malam, ada frasa yang menarik buat saya. Ia jenis orang yang bisa menyimpulkan dengan tepat apa yang saya maksud dalam satu atau dua frasa saja. Mungkin nggak orisinil, tapi itu nggak penting. Salah satunya ini. In-between people.

Diawali dengan perbincangan mengenai orang-orang yang dilihat setiap hari walau tak dikenal. Seperti kasir grocery. Atau tukang pos. Atau pelayan restoran. Atau orang yang tiap hari kita lihat di waktu yang sama (saat menunggu bis, misalnya). Walau tak dikenal, orang-orang ini termasuk membentuk keseharian dan rutinitas tanpa disadari. Pada saat harus pindah ke tempat lain, kita merasa kehilangan orang-orang seperti ini. Kehilangan memori. Rutinitas masa lalu. Wajah-wajah yang familiar. Tukang bubur ayam pagi. Wanita penunggu bis. Penjaga perpustakaan. Penjual koran. Bayang-bayang diri yang berkelebat di bawah matahari.

Lalu kawan saya mengaitkan hal ini dengan buku yang ia baca, penulisnya imigran dari eropa timur yang tinggal di amerika. Salah satu kehilangan besar dalam hidup tokoh saat harus pindah adalah orang-orang ini. Sosok tak dikenal yang mengaitkan hidupnya dengan masa lalu. Dengan kenangan hidup di suatu belahan dunia di suatu waktu. Dengan suatu identitas yang mapan, dan rutinitas yang diharapkan. (Ia juga berucap belasungkawa atas kehilangan mbah saya, dan kehilangan akan sebagian diri saya di masa lalu).

Saya menambahkan, ada kesamaan dari orang-orang yang ber-imigrasi ini. Alasan pindah dari suatu tempat ke tempat lain. Kadang masa lalu yang sama (pengungsi perang atau revolusi, seperti dalam Kite Runner atau Minaret). Kadang ingin kehidupan yang lebih baik (Life of Pi, Namesake). Entah tokoh dalam buku atau pengalaman langsung penulisnya. Somehow, mereka punya karakter yang sama. Tapi yang pasti, walau mereka punya akar di negaranya, benih mereka jatuh di negara lain. Hati dan budaya mereka ada di tanah asal, tapi rutinitas dan hidup mereka ada di tanah baru. Terjepit. Atau terbelah. Atau terentang. In between.

might be continued. might be not.