Wednesday, December 21, 2005

Sendirian

Sendirian. Ia termangu. Hari itu mendadak libur. Sementara putranya sudah sign-up untuk satu minggu penuh di sekolah. Suaminya masuk kantor. Ia termangu. Sendirian.

Rasanya aneh, ada yang kurang. Celoteh dan dendang ramai anak kecil tak terdengar. Setelah tiga tahun lebih, tiba-tiba ia di rumah. Sendirian. Aneh. Lho, bukankah itu yang biasanya ia inginkan? Ketenangan, waktu sendirian sehari penuh? Ia termangu. Ternyata tidak juga. Ternyata ia sudah terbiasa. Dengan celoteh dan percakapan. Dengan dendang nyaring terkadang sumbang. Dengan hari yang terencana. Ia menunggu sore. Tapi sia-sia.

Ia adalah saya.

Lalu saya buka pintu kulkas, mencari-cari bahan yang bisa diolah jadi hidangan. Surfing resep. Ingin coba sesuatu yang baru. Ah, kayaknya yang itu bisa. Lady finger diganti vanilla cookie. Setelah browsing ternyata mascarpone bisa diganti cream cheese. Kahlua diganti rum. Yang lebih penting nggak usah dipanggang pakai oven. Sip. Lalu saya sibuk sendiri. Ngotorin dapur.

Dan voila, jadilah sepinggan tiramisu. Ala saya tentunya. Rasanya lebih mirip cheesecake. Ah, jadi ingat teman saya yang suka banget cheesecake (Umi, apa kabar?).

Beberapa hari kemudian, saya sendiri lagi. Tapi sekarang lebih terencana. Saya sudah daftar untuk volunteer di House of Ruth Tempat ini menampung wanita dan anak-anak terlantar. Kebetulan dibutuhkan khusus untuk holiday season, membantu sorting gifts yang masuk. Lagipula, sudah agak lama saya berencana volunteer buat holiday ini, terinspirasi dari Mer waktu Natal tahun lalu. Mencoba membelok spirit of shopping jadi spirit of giving. Paling nggak, giving time yang saya punya.

Setelah bertemu koordinator volunteer, saya ditempatkan di ruang mainan anak-anak. Ruangan itu dipenuhi toys anak-anak segala rupa. Bertumpuk-tumpuk, berserakan, sampai saya membelalakan mata. Ruang ini surga buat anak-anak! Semuanya toys baru, sumbangan dari orang-orang yang baik hati. Dari beberapa label yang saya baca, kebanyakan toys ini disumbang secara personal dari anak-anak juga. Anak-anak yang lebih beruntung. Yang mau berbagi buat anak-anak lain yang kurang beruntung.

Lalu saya dan seorang lain mulai bekerja, membuka kantong-kantong. Melabel rak-rak berdasarkan jenis mainan, menyusunnya rapi-rapi. Termasuk buku, games, bahkan sepeda. Terkadang berhenti sesaat, memperhatikan mainan yang lucu, sambil berbagi tawa dengan yang lainnya. Sambil membayangkan, betapa senangnya anak kecil yang masuk ke sini, memilih mainan yang ia suka.

Saya sempat terharu. Tadi saya sempat melihat ruang tempat bermain anak-anak. Mereka yang sudah nggak punya orang tua atau yang orang tuanya nggak mampu menafkahi anaknya. Dan cuma setahun sekali mereka boleh merasakan mendapat mainan baru. Dan walaupun mereka mendapat mainan yang mereka suka, saya bisa mengira apa yang sebenarnya mereka inginkan. Berkumpul bersama keluarga.

Setelah menyelesaikan tugas, saya pulang ke rumah. Ternyata saya sangat tidak sendirian.

6 drops:

Anonymous said...

Aaah tiramisunya..abis...
Bikin lagi ya..pleaseee...

neenoy said...

pengen tiramisunya :p

volunteer? wah, menarik juga tuh...

Anonymous said...

jadi inget lagu You're never walk alone :)
Selamat Natal ya Dy!

--durin--

dy said...

Iya... nanti bikin lagi kok :)

Noy, kl guw balik pasti dikontak deh :)

Durin, thanks....

Riana said...

I hope you like the tiramisu like I do :)

merlyna lim said...

ooh.. senangnya mendengar cerita volunteer-nya dy... great!
i was trying to give in a different way this christmas.