Thursday, April 21, 2005

Prasangka

Heran, sampai sekarang orang masih juga menilai orang lain dari penampilan. Waktu belum lama lulus kuliah dan mulai kerja, aku berjumpa kawan lama dan makan siang bersama. Sejak SMP kami nggak pernah bertukar sapa, dan saat itu barulah kami bercerita panjang lebar. Saat itu aku cuma bercelana jeans dan berkaus, masih berbau mahasiswi. Kawanku akhirnya tak tahan berucap," Yaa ampun, nggak sangka deh elo tu lulusan i**, kerjanya jadi a***t** lagi...." sambil pandangannya menelusuri ujung rambut sampai ujung kakiku. Waa... yang ada aku jadi heran, memang kenapa...? Usut punya usut, kawanku ini banyak gaul di kalangan artis, yang terkadang walau urusan kerjaannya seret, penampilan harus tetap wah dan jaim. Karena penampilan memang dibutuhkan di bidangnya, kalau nggak siapa yang mau pake?

Banyak kejadian lain yang serupa. Kalau aku liburan, belum mandi dan menemani ibu belanja di pasar tradisional lalu bertemu kawannya,"Ini anaknya, Bu?" "Kok nggak pernah kelihatan?" "Ohh... kerjanya di S****p***?" Lalu ia manggut-manggut tapi wajahnya kelihatan sekali nggak percaya. Hoahaha....

Belum lama seorang teman yang membaca blogku berkomentar,"Aduh... nggak nyangka deh kamu bisa nulis begitu rupa...". Mungkin setiap kali berjumpa di acara khusus, penampilanku jauh dari kesan suka baca, apalagi nulis! Wah, sering sekali aku ngalamin yang kayak beginian, sampai-sampai aku jadi nggak peduli lagi dibilang orang aku ini orangnya gimana dan kayak apa.

Yang bahaya, ternyata prasangka macam ini terselip juga dalam diri. Saat aku berkenalan dengan orang lain pertama kali, saat menyadari ketidakcocokan dengan kawan, saat mendengar curhat sahabat lama, saat berhadapan dengan perbedaan. Karena nggak cuma aku, orang lain pun berubah. Karena nggak cuma aku, orang lain pun berbeda. Dengan alasannya masing-masing.

4 drops:

durin said...

cocok dengan org yg punya banyak kesamaan memang relatif lbh mudah daripada cocok dengan org yg punya perbedaan, ya?

neenoy said...

karena orang itu berlapis-lapis seperti bawang... kalo gue bilang sih, yang penting mah kita gak kekeuh-surekeuh aja dengan 'pandangan pertama' kita (yang sangat mungkin tidak tepat itu).

atta said...

tiap kopi darat, banyak orang terperangah melihat atta yang asli. "kita pikir elo yang jaim dan gak ngakak-ngakak kaya' gini"

hihihihi...

bener kata mbak neenoy, yang penting mah kita gak kekeuh-surekeuh aja dengan 'pandangan pertama' kita (yang sangat mungkin tidak tepat itu)

dy said...

Durin, betul banget, soalnya jadi nggak perlu banyak 'usaha'.

Neenoy, heheh... lucu analoginya sama bawang, tapi bener juga ya.

Atta, jadi... aslinya kamu begitu ya, hehehe...