Friday, November 19, 2004

Sungkem

Apa hubunganku dengan Lebaran? Jawabnya: Mbah. Dan sungkem. Saat Lebaran di tanah air, aku sungkem sama Mbah. Kala seorang kawan tahu hal ini dan bahwa Mbahku muslim ia membelalak. Kok bisa? Jawabku: Kenapa nggak? Kawanku ini lebih heran lagi saat tahu anak-anak mbahku alias saudara dari Bapak dan Ibuku punya keyakinan beda-beda. Jadi setiap Lebaran kami sekeluarga bisa menikmati ketupat di rumah Bude, dan setiap Natal semua saudara berkumpul di rumah Bapak. Ucap kawanku lagi: Lho kok bisa sih? Sekarang ganti aku yang heran: Memangnya kenapa?

Tradisi sungkeman telah ada sebelum agama Islam masuk ke Jawa. Kemudian pada jaman walisanga, tradisi itu dikemas dalam ritual Lebaran. Dengan sungkeman itu manusia akan kembali sadar akan sangkaning dumadi (asal-muasalnya) di mana orangtua merupakan orang yang menjadi lantaran dia berada di dunia. Oleh karena itu bagaimana pun keberadaan orangtua berdua, mereka harus dihormati.

Kalau kawan saya menganggap sungkeman itu kejawen, kayaknya nggak tepat juga. Karena kejawen berhubungan dengan ilmu kebatinan, aliran kepercayaan yang muncul dari masuknya berbagai macam agama ke Jawa. Sementara sungkeman sendiri mungkin bisa disamakan dengan kowtow-nya keturunan Tionghoa, bahkan agama Hindu (Bali) punya tradisi semacam sungkeman ini. Kalau ada menteri yang sungkem sama Presiden menurutku ya salah kaprah, karena Presiden bukan raja keraton, apalagi orang tua... sama seperti tradisi lain yang dipelesetkan dalam kehidupan politik/pemerintahan yang notabene banyak orang Jawa-nya.

Aku sungkem ke Mbah selain tanda hormat, juga minta maaf dan doa restu. Walau sekarang hanya lewat telepon. Sama saat aku sungkem pada Bapak dan Ibu saat Natal sekian tahun lalu, dan yang paling berkesan saat aku menikah dulu. Hubungan kekeluargaan bukan dipisahkan oleh kepercayaan agama, tapi direkat oleh keindahan tradisi, yang sayangnya seringkali hilang makna, dan dilupakan. Jadi kalau ada kawan yang bertanya lagi aku bisa menjawab pasti, karena perbedaan harusnya memperkaya. Bukan memisahkan.

0 drops: