Sunday, December 19, 2004

Vakum


Terkadang, aku ingin di satu titik waktu berhenti denyut. Senja jam empat musim dingin, di pelabuhan. Di titik ini mendadak semua orang berhenti bergerak. Ada anak kecil tertawa dengan mulut ternganga. Seorang wanita mengepul asap rokok yang menggantang di merah rekah bibirnya. Pria kondektur taksi air mengangkat jangkar dari laut beriak beku. Pelayan menuang minuman di gelas, airnya melayang di udara. Seorang anak melompat terhenti di udara dengan bola mengambang nyaris dalam genggam. Seekor camar menukik di tiga senti tepat di atas remah roti. Ya, di titik ini semua gerakan terhenti. Udara tak lagi terhirup, matahari mengintip di sela kabut, warna jingganya abadi. Aku mengira akupun membeku. Ternyata tidak.

Di titik ini aku bisa menghirup laut, memandang petang berwarna sempurna, berjalan di antara patung manusia. Semua senyap. Hirup nafaskupun tak terdengar, karena udara tak mengalirkan bunyi. Berjalan dalam vakum. Hingga lima menit merayap, tiba-tiba semua serentak bergerak. Kembali seperti semula, seperti tak terjadi apa-apa.

Malam ini, keinginan itu muncul lagi. Satu titik saat waktu berhenti denyut. Karena butiran indah itu turun perlahan. Melayang lembut serupa tirai. Kala terhenti, ia menjadi jutaan titik putih di udara. Berlangit kelam tanpa lintang. Dingin menusuk kulit tanpa angin, karena tak ada lagi gerak.

Aku bisa memandang titik putih itu dari dekat. Lebih jelas karena ia membeku di udara. Bentuknya serupa renda bulat berlubang halus. Sangat halus. Ah, ternyata benar... ia memang serupa renda, sekarang aku percaya. Aku enggan menyentuhnya. Karena ia akan lenyap begitu kusentuh, tak menjadi apa-apa. Tanah di pijakan berselimut debu putih lembut. Cantik dan menggodaku untuk terbenam di dalamnya. Tapi aku hanya punya lima menit, seperti biasa. Maka akupun hanya terdiam. Menikmati renda putih halus itu. Menikmati indah... hingga vakum dan senyapku lenyap.

6 drops:

neenoy said...

beautiful :)

titik waktu berhenti berdenyut... hmmm... kayak 'einstein's dreams' ya :)

Merlyna said...

Wonderful writing!
Don't you know that you have a talent in writing? Bahasa Indonesiamu begitu unik... dan memikat? Keep on writing, Dy..

dy said...

Betul Noy... emang lagi inget buku itu pas liat salju...
Iya Arti... jarang ada keindahan yg gratis. Keep warm :)
Makasih lho Mer... :)

Merlyna said...

kayaknya kamu bisa nulis u/ majalah atawa koran, dy... why not trying? atau nulis buku sekalian, kumpulan esei.. :)) ayo, ayo, go girl!
oh ya, einstein's dream itu aku suka juga...

dy said...

Mer... berjuta-juta blog di luar sana juga bagus2, tapi yg penting ketabahan kalo mau nulis panjang2, hehehe :)

Durin, i find it hard though to see the concentration camp as 'beauty and romatic'

Atta, makasih... kayaknya gara2 aku jg suka baca 'negeri-senja'...:)

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.