Tuesday, February 22, 2005

Pada Sebatang Hujan

Pada sebatang hujan aku melihat tongkat peri. Tongkat bening tembus pandangan, ia tak halangi penglihatan. Kala tertimbun cahaya ia pantul buliran warna serupa pelangi. Aku tak kuasa melihat asalnya di udara, karena ibu peri melayangkan selendang kabutnya. Aku kehilangan remahnya, karena hujam batangnya menyesapi tanah. Saat telapakku menadah ia mencolekkan kesegaran di tubuh basah.

Pada sebatang hujan aku melihat tongkat peri. Kala ibu peri mendesah sabdanya, tongkat peri itu mengajakku bermain berlompatan dengannya. Kala ibu peri menggelegar marah, tongkat peri itu jadi peringatan sakit dan derita di batang beningnya. Dan karena ibu peri selalu baik hati, setiap kali tongkat peri diayunnya, tanah jadi harum dan bumi jadi bersih seperti habis dicuci...